Dijuluki Silent Pandemic, Ini Faktor Penyebab Osteoporosis

Ilustrasi penyakit oestoporosis.
Ilustrasi penyakit oestoporosis.

Makassar, SULSELSEHAT — Oestoporosis atau tulang keropos merupakan salah satu penyakit yang juga mesti diwaspadai pada dewasa ini.

 

Pasalnya oestoporosis adalah penyakit yang menyebabkan kepadatan dan kualitas tulang berkurang secara diam-diam dan sering terjadi tanpa gejala sampai fraktur pertama terjadi.

JANGAN LEWATKAN :

Hal ini yang menyebabkan osteoporosis juga sering disebut sebagai “silent epidemic”.

Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RSUD kota Makassar dr Nuralam Sam, Sp. KFR menjelaskan, beberapa gejala osteoporosis dapat dikenali.

Misalnya, postur bungkuk, menurunnya tinggi badan, sakit punggung yang berkelanjutan dalam jangka panjang serta sering kali mengalami cidera atau keretakan tulang yang biasanya terjadi pada tulang belakang, pergelangan tangan, lengan atau tulang pangkal paha.

“Untuk itu, dalam mencegah oestoporosis dapat dilakukan dengan modifikasi gaya hidup untuk mencegah terjadinya patah tulang akibat osteoporosis. Seperti dengan meningkatkan latihan beban dan penguatan otot, serta memastikan asupan kalsium dan vitamin D yang optimal,” jelasnya, Senin (26/10/2020).

Ia menyebutkan, beberapa faktor yang menyebabkan meningkatkannya kemungkinan terkena osteoporosis. Antara lain usia, ras, gaya hidup, serta kondisi medis seseorang.

Tak hanya itu ada juga beberapa faktor lainnya. Faktor pertama, faktor resiko yang tidak dapat diubah, yang menyebabkan terjadinya oestoporosis.

Misalnya, jenis kelamin. Wanita lebih mungkin mendapatkan osteoporosis daripada pria. Hal ini disebabkan karena wanita mengalami menopause atau berhentinya siklus haid.

BACA:  Kelompok Ini Rentan Alami Osteoporosis, Bagaimana Mencegahnya?

Saat seorang wanita memasuki usia menopause, produksi hormon estrogen di dalam tubuhnya akan berkurang dengan drastis.

Padahal, salah satu dari fungsi penting yang dimiliki hormon tersebut adalah memperlambat pengambilan kalsium dari tulang.

Kemudian, jika jumlah hormon ini tidak cukup, maka tidak ada yang menghambat pengambilan kalsium. Akibatnya, struktur tulang akan semakin rapuh dengan cepat karena kalsium tersebut diambil terus-menerus tanpa batasan.

Kemudian usia. Semakin tua usia seseorang, maka semakin besar risiko terkena osteoporosis. Terutama jika sudah berusia lebih dari 35 tahun, risiko terjadinya osteoporosis akan meningkat.

“Biasa juga disebabkan karena ras. Risiko terbesar terkena osteoporosis adalah mereka yang berkulit putih atau keturunan Asia. Termasuk juga riwayat keluarga, dimana memiliki orang tua atau saudara kandung yang menderita osteoporosis membuat kita berisiko lebih besar, terutama jika ibu atau ayah mengalami patah tulang pinggul,” ujar Kepala Instalasi Rehabilitasi Medik RSUD Kota Makassar itu.

Selanjutnya ukuran rangka tubuh. Pria dan wanita yang memiliki kerangka tubuh kecil cenderung memiliki risiko lebih tinggi karena mereka mungkin memiliki lebih sedikit massa tulang untuk diambil seiring bertambahnya usia.

Faktor kedua, lanjut dr Alam adalah tingkat hormon. Osteoporosis lebih sering terjadi pada orang yang memiliki terlalu banyak atau terlalu sedikit hormon tertentu dalam tubuhnya. Contohnya termasuk, hormon seks. Kadar hormon seks yang menurun cenderung melemahkan tulang.

BACA:  Kelompok Ini Rentan Alami Osteoporosis, Bagaimana Mencegahnya?

“Penurunan kadar estrogen pada wanita saat menopause adalah salah satu faktor risiko terkuat untuk mengembangkan osteoporosis. Pria mengalami penurunan kadar testosteron secara bertahap seiring bertambahnya usia. Perawatan untuk kanker prostat yang menurunkan kadar testosteron pada pria dan pengobatan untuk kanker payudara yang menurunkan kadar estrogen pada wanita cenderung mempercepat pengeroposan tulang,” terang Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ini.

Masalah tiroid. Hormon tiroid yang berlebihan dapat menyebabkan keropos tulang. Hal ini dapat terjadi jika tiroid terlalu aktif atau jika mengonsumsi terlalu banyak obat hormon tiroid untuk mengobati tiroid yang kurang aktif. Termasuk juga kelenjar lainnya.

“Osteoporosis juga dikaitkan dengan paratiroid dan kelenjar adrenal yang terlalu aktif,” katanya.

Faktor ketiga, makanan. Osteoporosis lebih mungkin terjadi pada orang yang memiliki asupan kalsium rendah. Kekurangan kalsium seumur hidup berperan dalam perkembangan osteoporosis. Asupan kalsium yang rendah berkontribusi pada penurunan kepadatan tulang, pengeroposan tulang dini dan peningkatan risiko patah tulang.

Gangguan makan. Membatasi asupan makanan secara parah dan kekurangan berat badan melemahkan tulang baik pada pria maupun wanita.

Operasi gastrointestinal. Pembedahan untuk mengurangi ukuran perut atau untuk mengangkat bagian usus membatasi jumlah luas permukaan yang tersedia untuk menyerap nutrisi, termasuk kalsium. Operasi ini termasuk untuk membantu menurunkan berat badan dan untuk gangguan pencernaan lainnya.

BACA:  Kelompok Ini Rentan Alami Osteoporosis, Bagaimana Mencegahnya?

Faktor keempat, steroid dan obat lain. Penggunaan jangka panjang obat kortikosteroid oral atau suntik, seperti prednison dan kortison, mengganggu proses pembangunan kembali tulang.

Osteoporosis juga dikaitkan dengan pengobatan yang digunakan untuk melawan atau mencegah penyakit kejang, refluks lambung, kanker dan penolakan transplantasi.

Lanjutnya, faktor kelima, kondisi medis. Risiko osteoporosis lebih tinggi pada orang yang memiliki masalah kesehatan tertentu. Antara lain, penyakit celiac, penyakit radang usus, penyakit ginjal atau hati, kanker, lupus, mieloma multipel dan artritis reumatoid.

Faktor ke-enam, pilihan gaya hidup. Beberapa kebiasaan buruk dapat meningkatkan risiko osteoporosis. Contohnya, gaya hidup sedenter. Orang yang menghabiskan banyak waktu untuk duduk memiliki risiko lebih tinggi terkena osteoporosis dibandingkan mereka yang lebih aktif.

Kemudian, semua olahraga dan aktivitas menahan beban yang meningkatkan keseimbangan dan postur tubuh yang baik bermanfaat bagi tulang, tetapi berjalan, berlari, melompat, menari, dan mengangkat beban tampaknya sangat membantu.

Selanjutnya, konsumsi alkohol yang berlebihan. Konsumsi rutin lebih dari dua minuman beralkohol sehari meningkatkan risiko osteoporosis. Termasuk juga penggunaan tembakau.

“Peran pasti tembakau dalam osteoporosis masih belum jelas, tetapi penggunaan tembakau telah terbukti berkontribusi pada tulang yang lemah,” tutup Dosen di Departemen Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi FK Unhas.

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT