Prof Irawan: Dampak Pertambahan Kasus Positif Covid-19 di Sulsel Harus Jadi Perhatian Serius

Prof Irawan Jusuf Ph.D
Prof Irawan Jusuf Ph.D, Guru Besar Fakultas Kedokteran Unhas.

Makassar, SULSELSEHAT – Sulawesi Selatan akhirnya menjadi jawara nasional hari ini, Jumat (19/06) setelah Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional melaporkan perkembangan terbaru Covid-19 se-Indonesia.

 

Predikat itu diraih Sulawesi Selatan setelah mencatatkan penambahan 207 kasus baru yang terkonfirmasi positif Covid-19. Sulsel jauh mengungguli DKI Jakarta dan Jawa Timur dengan masing-masing 141 dan 140 kasus baru.

JANGAN LEWATKAN :

Dengan tambahan ini, Sulawesi Selatan kian mantap di posisi ketiga nasional dengan total jumlah kasus positif 3.573 orang. DKI Jakarta masih menjadi pengumpul terbanyak kasus positif dengan 9.655 kasus disusul Jawa Timur dengan 9.057 kasus.

BACA:  Tangani Covid-19 di Sulsel, Bupati Gowa Usulkan Perda Wajib Masker di Setiap Daerah

Terkait hal ini, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Prof Irawan Jusuf menyebut Sulawesi Selatan bisa saja dianggap juara jika yang menjadi pembanding adalah jumlah penduduknya.

“Kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk yang jauh lebih sedikit dibandingkan Jatim dan DKI, kita (memang) juara,” ujarnya kepada SulselSehat.com, Jumat (19/06/2020).

Untuk diketahui, jumlah penduduk Sulawesi Selatan adalah 8,82 juta (2019), sedangkan penduduk Jawa Timur 39,3 juta (2019) dan DKI Jakarta 10,6 juta (2019).

Peneliti Eijkman ini melanjutkan, Sulawesi Selatan justru dianggap berhasil jika pencapaian tambahan kasus positif hari ini dilihat sebagai konsekuensi dari massive testing yang digiatkan oleh pemerintah.

Hanya saja, menurut Prof Irawan, di luar dari segala ‘pencapaian’ tersebut, dampak dari pertambahan angka positif itulah yang seharusnya menjadi perhatian serius semua pihak.

BACA:  Kasus Positif Covid-19 Masih Tinggi, Pemprov Sulsel Lanjutkan Pembebasan Denda PKB

“Kalau dilihat dari kapasitas testing kita sudah jelas berhasil. Tetapi kita tidak dapat terus jadikan (sebagai) alasan. Dampak dari pertambahan itulah yang seharusnya menjadi perhatian serius,” bebernya.

Ia lantas menyoroti kapasitas sejumlah rumah sakit di daerah ini yang sudah mulai penuh terisi pasien, ditambah dengan semakin terbatasnya sumber daya tenaga kesehatan akibat terinfeksi Covid-19.

“(Harus diperhatikan) bagaimana kemampuan daya tampung RS kita yang sekarang saja sudah penuh. Belum semakin banyak tenaga kesehatan kita yang (jadi) korban,” pungkas mantan Dekan Fakultas Kedokteran Unhas itu.

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT