Masyarakat Diminta Cerdas, DBD dan Covid-19 Miliki Gejala yang Sama

Ilustrasi Anak DBD
Ilustrasi Anak terserang DBD.

Makassar, SULSELSEHAT — Di tengah pandemi virus corona atau Covid-19 penyebaran kasus demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan karena nyamuk perlu di waspadai masyarakat.

Pasalnya beberapa bulan terakhir wabah DBD juga mengintai masyarakat Indonesia termasuk di Sulawesi Selatan. Meski keduanya merupakan jenis penyakit berbeda, namun memiliki risiko yang tidak bisa disepelekan.

JANGAN LEWATKAN :

Cirinya pun cenderung mirip, sehingga masyarakat diminta cerdas untuk mengetahui gejala DBD dan Covid-19 secara spesifik.

Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas Aminuddin Syam mengatakan, berdasarkan data penelitian kesehatan menyebutkan bahwa DBD dan Covid-19 merupakan penyakit yang disebabkan karena infeksi virus. Karena sama-sama disebabkan virus, gejala yang muncul pun kerap serupa sehingga sulit dibedakan.

“Covid-19 ditularkan antar manusia melalui droplet, sedangkan DBD ditularkan melalui nyamuk jenis aedes aegepti. Gejala awal dari kedua penyakit ini secara umum juga sama seperti flu. Sehingga perlu untuk mengetahui secara pasti gejala dari dua kasus tersebut,” katanya di sela-sela webinar “Pencegahan dan Pengendalian Penyakit DBD di Masa Pandemi Covid-19”, Selasa (1/9/2020) .

BACA:  Kabar Baik! Vaksin Covid-19 Indonesia Berhasil Lalui 8 dari 15 Tahapan Pengembangan

Kegiatan yang digelar Departemen Kesehatan Lingkungan FKM Unhas ini dihadiri sejumlah narasumber yakni Guru Besar Kesehatan Lingkungan FKM Universitas Airlangga Prof Ririh Yudhastuti drh, Ketua Umum Perkumpulan Pemberantasan Penyakit Parasitik dan Penyakit Tropis Indonesia dr. Rita Kusriastuti, M.Sc dan Guru Besar Kesehatan Lingkungan FKM Unhas Prof. dr. Hasanuddin Ishaq.

Aminuddin berharap, dengan pertemuan tersebut maka seluruh pihak yang terlibat dapat menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat luar tentang hal tersebut.

“Kami berharap, melalui webinar ini informasi bisa bertambah agar penanganan bisa dilakukan secara tepat,” tegasnya.

Ia menjelaskan, webinar tersebut dilakukan sebagai langkah FKM Unhas yang terus berkreasi menghadirkan wadah edukasi dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan diri dan lingkungan.

BACA:  Breaking News: Kapolres Bulukumba Positif Covid-19

“Saat ini kasus sebaran DBD sudah meluas seiring dengan kasus pandemi Covid-19. Sehingga kita perlu melakukan langkah penanganan bersama-sama pula,” terangnya.

Sementara, Prof Ririh Yudhastuti menjelaskan dalam pemaparannya terkait ancaman DBD dan peranan kesehatan lingkungan di tengah pandemi Covid-19.

Ia mengungkapkan, indonesia sebagai negara kepulauan tropis terpadat di Asia Tenggara merupakan negara endemik DBD, dimana penularannya terjadi secara terus menerus setiap tahunnya.

Hingga Juni 2020, kasus sebaran DBD di Indonesia pada masa pandemi Covid-19 berjumlah 68.753, dengan kasus kematian 500 orang.

Wilayah dengan banyak kasus DBD merupakan wilayah dengan kasus Covid-19 yang tinggi pula seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, NTT, dan beberapa kabupaten/kota di Indonesia.

BACA:  Belum Juga Reda, Positif Covid-19 Gowa Bertambah 41 Jadi 435 Kasus

“Mobilitas, kondisi iklim dan urbanisasi merupakan faktor yang diketahui mendorong penyebaran penyakit secara geografis dari daerah endemik ke seluruh daerah non endemik, sehingga menyebabkan peningkatan resiko penyebaran,” jelas Prof Ririh.

Diakhir materinya, Prof Ririh menyimpulkan ancaman DBD di tengah pandemi Covid-19 bisa dicegah dengan menurunkan populasi vektor nyamuk pada tingkat yang tidak membahayakan kesehatan masyarakat.

Selain itu, dibutuhkan peran serta masyarakat dalam mengendalikan DBD, terutama tempat umum dan institusi yang ditinggalkan karena kebijakan work from home, pembatasan sosial berskal besar (PSBB), dan beberapa kebijakan lainnya selama masa pandemi.

“Selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, masyarakat perlu melakukan prediksi kasus DBD selama musim hujan dan manajemen yang baik walau ada pandemi Covid-19,” tutup Prof Ririh.

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT