SEHATNEWS – Pembangunan hari ini sering dipresentasikan sebagai tanda kemajuan bangsa. Negara berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, investasi, hingga percepatan proyek strategis nasional sebagai indikator keberhasilan modernitas.
Namun di balik berbagai angka pertumbuhan itu, terdapat satu pertanyaan mendasar yang jarang dibicarakan secara serius: apakah pembangunan benar-benar dibangun di atas perlindungan terhadap manusia, atau justru di atas pengorbanan tubuh manusia itu sendiri?
Pertanyaan ini menjadi penting ketika kita melihat bagaimana isu kesehatan ibu dan anak masih sering diposisikan sebagai persoalan domestik semata, padahal ia memiliki hubungan yang sangat erat dengan struktur kerja, kebijakan ekonomi, dan model pembangunan negara.
Tubuh perempuan pekerja hari ini tidak hanya berhadapan dengan tuntutan biologis sebagai ibu, tetapi juga dengan tekanan produksi, fleksibilisasi tenaga kerja, dan lingkungan kerja yang sering kali tidak ramah terhadap kebutuhan reproduktif manusia.
Dalam konteks inilah kesehatan ibu dan anak tidak dapat dibaca sekadar sebagai isu medis, melainkan persoalan sosial-politik yang berkaitan langsung dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Materi mengenai kesehatan ibu dan anak dalam perspektif K3 menunjukkan bahwa perempuan pekerja, khususnya ibu hamil, menghadapi risiko tambahan berupa stres kerja, tekanan ergonomi, paparan bahan kimia, hingga jam kerja panjang yang dapat memengaruhi kesehatan ibu dan perkembangan anak.
Masalahnya, dalam banyak kasus, pembangunan modern justru menciptakan ruang kerja yang semakin eksploitatif terhadap tubuh perempuan.
Industrialisasi membutuhkan produktivitas tinggi, sementara tubuh perempuan memiliki kebutuhan biologis dan psikologis yang sering kali dianggap menghambat efisiensi produksi.
Akibatnya, tubuh ibu dipaksa menyesuaikan diri dengan ritme industri, bukan industri yang menyesuaikan diri dengan kebutuhan manusia.
Di titik ini kita melihat bahwa dalam sistem yang hari ini hadir, tubuh manusia diperlakukan sebagai instrumen produksi. Nilai manusia diukur berdasarkan produktivitasnya.
Ketika perempuan memasuki ruang kerja industri, tubuh mereka tidak dipahami sebagai tubuh sosial yang memiliki kebutuhan reproduktif, emosional, dan biologis, tetapi sebagai tenaga kerja yang harus tetap efisien dalam menopang sistem produksi.
Dominasi modern tidak selalu bekerja melalui kekerasan langsung, tetapi melalui pembentukan kesadaran sosial. Perempuan sering diyakinkan bahwa kemampuan bertahan di tengah tekanan kerja merupakan bentuk keberhasilan personal, sementara sistem kerja yang eksploitatif justru dianggap normal.
Akibatnya, banyak pekerja perempuan menerima beban kerja berlebih, minimnya ruang laktasi, atau tekanan pasca melahirkan sebagai bagian “wajar” dari dunia kerja.
Padahal data dalam kajian K3 menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang buruk dapat berdampak serius terhadap kesehatan ibu dan anak. Paparan bahan kimia berbahaya selama kehamilan dapat meningkatkan risiko gangguan perkembangan janin dan komplikasi persalinan.
Tekanan fisik seperti mengangkat beban berat atau berdiri terlalu lama juga meningkatkan risiko keguguran dan preeklamsia. Bahkan stres kerja yang tinggi memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental ibu dan perkembangan psikologis anak.
Persoalan ini memperlihatkan bahwa K3 tidak cukup dipahami hanya sebagai prosedur teknis keselamatan kerja, tetapi harus dibaca sebagai perlindungan terhadap keberlanjutan hidup manusia.
Sebab ketika kesehatan ibu terganggu, dampaknya tidak berhenti pada individu pekerja, melainkan berlanjut pada tumbuh kembang anak, kualitas kesehatan keluarga, hingga keberlangsungan sosial masyarakat.
Di sinilah kritik terhadap model pembangunan modern menjadi penting. Negara sering berbicara tentang bonus demografi, peningkatan produktivitas tenaga kerja, hingga pembangunan sumber daya manusia, tetapi pada saat yang sama gagal menciptakan ruang kerja yang aman dan manusiawi bagi perempuan.
Tubuh ibu dipuji sebagai fondasi masa depan bangsa, tetapi kebutuhan dasar mereka di ruang kerja sering diabaikan.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya paradoks pembangunan: negara menginginkan generasi sehat dan produktif, tetapi tidak sungguh-sungguh melindungi tubuh yang melahirkan generasi itu sendiri.
Dapat dilihat bagaiamana aspek implementasi kesehatan ibu dan anak juga menunjukkan bahwa banyak tempat kerja masih minim fasilitas pendukung seperti ruang laktasi, fleksibilitas kerja, hingga fasilitas penitipan anak.
Bahkan kurangnya cuti melahirkan yang layak membuat banyak ibu kembali bekerja sebelum pemulihan fisik dan psikologis mereka benar-benar selesai.
Dalam perspektif yang lebih luas, ini bukan sekadar persoalan administrasi perusahaan, tetapi refleksi bagaimana sistem ekonomi modern lebih memprioritaskan kontinuitas produksi dibanding keberlanjutan hidup manusia.
Lebih jauh lagi, dampak dari lingkungan kerja yang buruk tidak hanya dirasakan oleh ibu pekerja, tetapi juga oleh anak-anak mereka.
Kajian tersebut menjelaskan bahwa jam kerja panjang, stres, dan minimnya waktu pengasuhan dapat memengaruhi perkembangan emosional serta pemenuhan gizi anak. Anak akhirnya menjadi korban tidak langsung dari sistem kerja yang eksploitatif.
Dalam konteks ini, kesehatan ibu dan anak sesungguhnya berkaitan erat dengan ketahanan sosial masyarakat. Ketika tubuh perempuan terus dipaksa bekerja dalam sistem yang tidak manusiawi, maka yang terancam bukan hanya kesehatan individu, tetapi masa depan generasi secara keseluruhan.
Karena itu, solusi terhadap persoalan ini tidak cukup berhenti pada slogan kesejahteraan atau kampanye kesehatan formal. Memang, beberapa langkah seperti fleksibilitas kerja, ruang laktasi, penyesuaian ergonomi, hingga fasilitas penitipan anak merupakan bagian penting yang perlu diperkuat.
Namun lebih dari itu, yang perlu dikritisi adalah paradigma pembangunan yang masih memandang manusia semata sebagai alat produksi.
Pembangunan seharusnya tidak diukur hanya dari pertumbuhan ekonomi dan percepatan industri, tetapi juga dari sejauh mana negara mampu melindungi tubuh manusia yang menopang pembangunan itu sendiri. Sebab pembangunan yang gagal menjaga kesehatan ibu dan anak pada akhirnya sedang membangun masa depan di atas tubuh yang kelelahan.
Maka kesehatan ibu dan anak dalam perspektif K3 bukan hanya persoalan teknis keselamatan kerja, melainkan persoalan keadilan sosial. Ia berbicara tentang hak manusia untuk bekerja tanpa kehilangan kesehatan, tentang hak perempuan untuk menjadi ibu tanpa dipaksa mengorbankan tubuhnya demi produktivitas industri, dan tentang hak anak untuk tumbuh dalam lingkungan sosial yang sehat dan manusiawi.
Sebab bangsa yang benar-benar maju bukanlah bangsa yang sekadar mampu mempercepat industrialisasi, tetapi bangsa yang mampu memastikan bahwa setiap pembangunan tetap berpihak pada kehidupan manusia itu sendiri.
Penulis: Muhammad Raid Nabhan – Ketua Umum BPL HMI Cabang Makassar Timur
Baca berita terbaru SulselSehat setiap hari. JIkuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.
























