Antara Pengabdian dan Penjualan: Jalan Terjal Profesi Farmasi

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
Dok: Fikri Haikal

SEHATNEWS – Di ruang-ruang kuliah farmasi mahasiswa ditempa layaknya penjaga gerbang terakhir kehidupan. Mereka diajarkan mengenali nama-nama obat seperti seorang penyair mengenali diksi, memahami interaksi zat sebagaimana ilmuwan membaca semesta, hingga meracik harapan dalam bentuk tablet, kapsul, dan cairan.

Pada pundak mereka disematkan satu amanah yang begitu luhur membantu mereka yang sakit agar kembali sehat, memastikan obat digunakan secara tepat, dan menjadi penuntun swamedikasi agar masyarakat tidak tersesat dalam labirin penggunaan obat yang keliru.

JANGAN LEWATKAN :

Farmasi pada mulanya adalah tentang pengabdian. Tentang manusia yang berdiri di balik etalase apotek bukan sekadar penjaga rak obat tetapi penjaga keselamatan. Seorang farmasis dibentuk untuk memahami bahwa satu kesalahan kecil dalam pemberian obat dapat menjadi petaka besar bagi kehidupan seseorang.

Namun dunia sebagaimana waktu, tak pernah benar-benar diam.

Ketika toga dilepas dan ruang kelas berubah menjadi dunia kerja idealisme perlahan berhadapan dengan kenyataan yang sering kali tidak diajarkan secara utuh di bangku pendidikan. Di balik cahaya putih apotek dan aroma steril ruang pelayanan terdapat denyut lain yang tak kalah kuatyaitu industri. Sebuah ruang tempat kesehatan bertemu dengan angka, tempat pengabdian bersinggungan dengan target penjualan.

Di titik itulah seorang farmasis sering berdiri gamang.

Sebab ternyat, memahami farmakologi saja belum cukup. Menghafal mekanisme kerja obat, membaca resep dengan presisi, meracik dengan ketelitian, atau memberi edukasi swamedikasi yang tepat. Ada satu ilmu lain yang diam-diam menjadi penentu napas bisnis farmasi yaitumarketing.

Realitas industri kesehatan hari ini menuntut farmasis tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga lihai membaca pasar. Sebab di dunia kerja ukuran keberhasilan sering kali bukan semata “berapa banyak pasien terbantu” tetapi juga “berapa banyak produk bergerak dari rak ke tangan konsumen.”

Di sana, muncul logika bisnis yang tidak selalu romantis.

Bagaimana obat dengan harga lebih tinggi atau obat paten dapat lebih dahulu keluar dibanding generik. Bagaimana stok yang mendekati masa kedaluwarsa enam bulan harus segera diprioritaskan agar tidak menjadi kerugian perusahaan.

Bagaimana seorang tenaga farmasi dituntut memahami strategi komunikasi, persuasi, hingga psikologi pelanggan sesuatu yang mungkin tidak pernah dibahas panjang di kelas farmakoterapi.

Lalu pertanyaan getir itu muncul:

Apakah kita belajar farmasi untuk menyembuhkan, atau belajar marketing untuk menjual?

Mungkin pertanyaan itu tidak harus dijawab dengan memilih salah satu.

Karena kenyataannya farmasi modern hidup di antara dua dunia: dunia etik dan dunia ekonomi. Menolak marketing sepenuhnya adalah naif sebab industri kesehatan tetap membutuhkan keberlanjutan bisnis agar pelayanan dapat berjalan. Tetapi menuhankan marketing tanpa batas juga berbahaya sebab kesehatan manusia bukan komoditas biasa yang bisa diperdagangkan tanpa nurani.

Di sinilah kedewasaan seorang farmasis diuji.

Marketing dalam farmasi semestinya bukan seni menjual sebanyak-banyaknya tanpa arah melainkan seni menyampaikan pilihan yang tetap rasional, aman, dan etis. Seorang farmasis yang baik bukan hanya mampu mengeluarkan produk mahal tetapi juga tahu kapan pasien cukup dengan obat generik yang efektif. Ia bukan hanya pandai menghabiskan stok tetapi juga menjaga agar keputusan bisnis tidak mencederai kepentingan kesehatan pasien.

Barangkali dunia pendidikan farmasi hari ini perlu bercermin. Bahwa kurikulum tidak cukup hanya mencetak manusia yang mahir membaca resep, tetapi juga memahami realitas industri. Marketing, komunikasi bisnis, hingga manajemen farmasi seharusnya hadir bukan untuk menggeser nilai kemanusiaan, tetapi menjadi alat agar farmasis mampu bertahan tanpa kehilangan nurani.

Sebab pada akhirnya, menjadi farmasis bukan soal memilih antara farmasi atau marketing.

Melainkan belajar bagaimana keduanya dapat berjalan berdampingan agar obat tetap menjadi jalan kesembuhan, dan bisnis tidak berubah menjadi alasan untuk melupakan kemanusiaan.

Penulis: Fikri Haikal – Demisioner Kabid PSDA LKMI HMI Cabang Makassar Timur

Baca berita terbaru SulselSehat setiap hari. JIkuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT