Epidemiolog Unhas: Pandemi Covid-19 akan Berlangsung Lama

Ilustrasi virus corona atau Covid-19
Ilustrasi virus corona atau Covid-19. (Foto: Langgam.id)

Makassar, SULSELSEHAT.COM — Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Sulawesi Selatan Prof Ridwan Amiruddin mengkhawatirkan pandemi virus Corona (Covif-19) akan berlangsung lama.

Jumlah kasus positif yang terus bertumbuh diangka sekitar 10.000 perhari secara nasional menjadi salah satu alasannya.

JANGAN LEWATKAN :

“Ini kita lihat dari angka positif rate yang cukup tinggi yakni 20 persen dan positif aktif 14 persen,” katanya dalam pernyataan resmi yang diterima media ini, Senin (18/1/2021).

Lanjutnya, penularan yang sudah berada pada level komunitas, pada wilayah yang seluas Indonesia dengan populasi yang padat serta jumlah yang besar menyebabkan pandemi ini akan berlangsung dalam waktu yang relatif lama.

BACA:  Bertambah 4 Kasus Baru, Total Positif Covid-19 di Maros Kini Capai 151 Orang

“Pandemi Covid-19 ini adalah tantangan terhadap science yang melaju begitu cepat,” ujarnya.

Menurut Prof Ridwan, meski demikian, upaya pemerintah mengatasi pandemi Covid-19 ini juga cukup cepat.

Sebagai catatan, pada sejumlah pandemi sebelumnya dibutuhkan waktu puluhan tahun untuk memproduksi obat atau vaksin. Sementara saat ini hanya dalam tempo satu tahun sudah dihasilkan sekitar 200 candidat vaksin untuk Covid-19.

“Bahkan beberapa jenis vaksin  sudah di produksi dan diedarkan secara resmi di berbagai negara. Ini adalah cahaya di ujung lorong yang gelap,” akunya.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas ini mengungkapkan, pemberian vaksin tentu diharapkan dapat secara efektif menekan laju penularan Covid-19, membentuk kekebalan komunitas hingga akhirnya penularan dapat di kontrol.

BACA:  Breaking News: 2 Pasien PDP Covid-19 Luwu Timur Meninggal Dunia

“Laju Covid-19 harus di kontrol dengan memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki. Pengendalian pada tingkat komunitas, keluarga dan individu harus dapat dijalankan secara sinergis,” ujarnya.

Termasuk pula program intervensi farmasi dan non farmasi harus berjalan secara bersamaan, begitu juga intervensi medik dan publik health harus di tempatkan sebagai dua sisi mata uang.

Ridwan menyebut, program intervensi medik tidak mungkin berhasil kalau tidak melibatkan keahlian publik health, sedangkan program publik health tidak akan berhasil bila menafikan intervensi medik.

Karena itu, arogansi profesi pada situasi sekarang ini harus disingkirkan.

“Pengendalian Covid-19 adalah pekerjaan kolaborasi seluruh profesi yang dapat mengakses seluruh potensi penduduk atau masyarakat untuk berperan aktif dalam mitigasi pandemi,” tegasnya.

Selain itu, masyarakat dan pemerintah perlu menyadari bahwa sebagai bangsa yang besar, kita tidak akan mempertaruhkan keutuhan negeri ini hanya karena keegoan untuk tidak patuh terhadap kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

BACA:  Gubernur Sulsel Minta Akademisi dan Mahasiswa Jadi Fasilitator Pencegahan Covid-19

Tekanan yang berat akhir akhir ini adalah tempaan bagi bangsa untuk tetap bisa survive di masa yang akan datang.

“Sebagai bangsa yang berada di ring of fire serta pertemuan berbagai sesar  patahan bumi, kondisi geografis dan demografis populasinya maka dapat disimpulkan bahwa negera ini disamping potensi kekayannya juga terkandung potensi laten bencana alam dan non alamnya”.

“Mengantisipasi hal tersebut, maka cara pandang setiap warga bangsa  ini harus tetap berpola pada  kewaspadaan kebencanaan. Jangan pernah lengah, karena sesungguhnya ancaman itu selalu mengintai kita semua,” tands Prof Ridwan.

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT