Penderita Cerebral Palsy Butuh Perhatian Seluruh Pihak

Ilustrasi pasien penderita Cerebral Palsy
Ilustrasi pasien penderita Cerebral Palsy.

Makassar, SULSELSEHAT — Penderita Cerebral Palsy perlu mendapatkan perhatian dari seluruh stakeholder, termasuk dalam hal fasilitas rehabilitasi bagi mereka.

Hal ini pula yang didorong pada peringatan Hari Cerebral Palsy Sedunia Tahun 2020 agar dapat meningkatkan kepedulian stakeholder terhadap penderita Cerebral Palsy (CP).

Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi dr. Ellyana Sungkar mengatakan, dalam proses rehabilitasi pasien CP memang dibutuhkan keterlibatan semua stakeholder.

Mulai dari sektor kesehatan, aspek pendidikan (tempat pendidikan, teknik mengajar), aspek arsitektural gedung, aspek sosial (bantuan sosial dan motivasi), aspek pembiayaan kesehatan, dan lainnya.

“Kita harusnya bisa menyiapkan fasilitas layanan rehabilitasi yang mudah terjangkau, dan sistem pembiayaan yang memfasilitasi kebutuhan alat bantu maupun ortosis serta alat modifikasi aktifitas sehari-hari,” katanya dalam pernyataannya, Selasa (24/11/2020).

Termasuk, pembangunan fasilitas publik yang sesuai dengan kebutuhan orang dengan CP, sistem pendidikan yang memfasilitasi manajemen postur dan proses belajar mengajar bagi anak penderita CP, pengembangan layanan berbasis masyarakat/komunitas/rumah, serta pengembangan pendidikan seluruh tenaga medis dan kesehatan yang terlibat dalam pelayanan CP.

Dirinya menjelaskan, Cerebral Palsy merupakan suatu keadaan (bukan penyakit) yang mempengaruhi perkembangan kontrol otot dan gerak serta postur.

Hal tersebut terjadi akibat kerusakan otak pada bagian yang mengontrol gerakan. Akibatnya adalah munculnya disabilitas yang permanen seperti kelemahan otot, dan kekakuan (spastisitas).

“CP ini disebabkan pada suatu keadaan yang menyebabkan kerusakan pada otak. Hal ini dapat terjadi dengan adanya faktor risiko masa kehamilan, saat persalinan maupun setelah lahir. Kerusakan otak dan akibat lainnya membuat mereka sulit mencapai kemampuan sesuai perkembangan normal,” terang dr. Ellyana.

Gejala lain yang mungkin menyertai CP misalnya kejang, perubahan perilaku dan tidur sehingga menambah keterbatasan untuk beraktifitas dan berkembang.

Fungsional yang mungkin terjadi antara lain gangguan komunikasi, gangguan mobilisasi, aktifitas sehari hari seperti mandi, makan, dan Iain-lain. Gangguan ini berdampak pada partisipasi dimasyarakat seperti sekolah, melakukan hobinya maupun bekerja.

Menurut data Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI), sekitar 350 juta anggota keluarga dan caregiver/pengasuh berkaitan erat dengan anak CP maupun CP dewasa membutuhkan rehabilitasi jangka panjang atau intervensi multidisiplin untuk latihan dan melatih kembali keterampilan fungsional yang hilang, mencegah kecacatan sekunder dan berpartisipasi dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.

Rehabilitasi/habilitasi dan intervensi multidisiplin sejak dini dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas hidup anak, orang tua maupun pengasuhnya, keluarga serta komunitasnya.

Program rehabilitasi pada CP pada umumnya memerlukan latihan jangka panjang, pengaturan posisi pada 24 jam setiap aktifitas, obat baik yang diminum maupun disuntik, ortosis dan alat bantu serta alat modifikasi aktifitas sehari-hari.

“Kebutuhan biaya untuk memenuhi program tersebut tidak sedikit namun dapat diupayakan dengan berbagai inovasi atau sumber daya yang tersedia secara lokal,” tegas pengurus PERDORSI Pusat ini.

Selain itu, tanggung jawab tenaga medis maupun tenaga kesehatan juga penting, hal ini agar anak CP dapat tumbuh dan mencapai kemampuan fungsionalnya secara optimal.

Hanya saja proses tersebut masih terhambat oleh sumber daya yang terbatas dan biaya tinggi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak ini dan keluarganya.

Biasanya dalam hal tarif transportasi, biaya medis atau rehabilitasi, alat bantu dan kunjungan evaluasi penilaian fasilitas kesehatan (penyedia layanan) sesuai rencana rehabilitasi yang telah disepakati.

Tak hanya itu, di banyak komunitas di seluruh dunia, stigma sosial membuat banyak orang dengan CP tidak berpendidikan dan tersembunyi dari komunitas lainnya.

Dukungan dari bidang pendidikan, pemberi kerja, pembangunan fasilitas publik juga sangat diperlukan agar kualitas hidup optimal.

“Sebagai contoh, anak CP yang telah kita upayakan rehabilitasi sejak dini dan kemampuan optimalnya adalah menggunakan kursi roda maka bila fasilitas publik atau tempat pendidikannya tidak tersedia untuk kemudahan penggunaan kursi roda tersebut maka penyandang CP kesulitan untuk mobilisasi di fasilitas publik dan mengikuti pendidikan di sekolahnya,” tutupnya.

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT