Konsumsi ASI Ekslusif Dapat Mengurangi Risiko Stunting pada Anak

Ilustrasi ibu menyusui.
Ilustrasi ibu menyusui.

Makassar, SULSELSEHAT — Untuk menyelamatkan anak pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), terutama terhadap risiko terjadinya stunting maka dibutuhkan gizi yang baik. Salah satunya melalui pemberian air susu ibu (ASI) ekslusif.

Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Lenny N. Rosalin mengatakan, stunting merupakan salah satu isu kesehatan anak yang menjadi prioritas untuk mendapatkan penanganan serius.

JANGAN LEWATKAN :

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh kembang pada anak. Hal ini biasanya dipengaruhi karena anak tidak mendapatkan cakupan gizi yang baik.

BACA:  Pandemi Covid-19, Dinkes Sulsel Fokus Tekan Angka Stunting di Enrekang dan Bone

“Peran ASI ekslusif sangat penting terhadap tumbuh dan kembang anak, sebab balita yang tidak diberikan ASI ekslusif sejak lahir akan memilki risiko stunting sebesar 4,8 kali dibandingkan dengan balita yang diberikan ASI eksklusif sejak lahir,” katanya di sela-sela Webinar Internasional bertajuk “Perspektif Program Dalam Rangka Penyelamatan 1000 HPK“, Selasa (22/9/2020).

Webinar yang digelar Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin sebagai salah satu rangkaian peringatan Dies Natalis FKM Unhas ke-38 dan perayaan Dies Natalis Program Studi Ilmu Gizi FKM Unhas ke-15.

Lenny menjelaskan, periode emas dan tumbuh kembang anak ada empat tahap. Antara lain prakonsepsi, janin (dalam rahim), neonatus, dan bayi.

BACA:  30 Pendamping Gizi Siap Layani Bumil dan Baduta di Daerah Lokus Enrekang

Selain itu, peran keluarga juga harus dioptimalkan sebagai pelopor dalam pencegahan stunting melalui pemberian makanan dengan benar, memberi ASI + MPASI secara tepat, meningkatkan imunitas melalui asupan gizi yang baik, serta penerapan pola hidup sehat.

“Jika anak sakit, maka pihak keluarga harus segera melapor ke fasilitas pelayanan kesehatan,” jelas Lenny.

Sementara Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr. Hasto Wardoyo mengatakan, untuk mencapai sumber daya manusia (SDM) unggul permasalahan stunting harus dapat diatasi.

“Stunting bukanlah single problem, tetapi masih banyak yang menjadi permasalahan gizi di balik itu salah satunya kehamilan yang terjadi di usia muda,” katanya.

dr Hasto mengaku, hamil pada usia muda menyebabkan tulang berhenti tumbuh. Kehamilan pada umur 15 atau 16 tahun menyebabkan kalsium yang seharunya digunakan untuk menambah panjang tulang, justru disalurkan ke janin sehingga si ibu menjadi pendek atau terjadinya pertumbuhan terhenti. Hal inilah yang juga memiliki potensi anak juga menjadi pendek.

BACA:  Peran Desa dan Masyarakat Bantu Turunkan Angka Stunting di Kabupaten Gowa

“Olehnya itu periode 1000 HPK sangat penting dan menjadi proriotas utama yang dimulai 270 hari masa kehamilan hingga 730 hari setelah lahir,” singkat dr Hasto.

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT