Hari Ini, 88 Kasus Baru Covid-19 di Sulsel, 74 Orang Tercatat Sembuh

Pandemi COVID-19

Makassar, SULSELSEHAT — Berdasarkan laporan Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sulawesi Selatan pada Jumat, 7 Agustus 2020 tercatat ada 88 kasus positif Covid-19 yang baru. Data tersebut menunjukan kurva menurun jika dibandingkan sehari sebelumnya dengan 182 kasus.

Untuk total kasus yang ada distribusi terbanyak adalah Kota Makassar dengan 55 kasus, Kabupaten Gowa dengan 7 kasus, Kabupaten Wajo, Pangkep dan Kota Parepare dengan 4 kasus, serta Kabupaten Bone, Takalar, dan Luwu Utara dengan distribusi harian sebanyak 3 kasus.

JANGAN LEWATKAN :

Pada data tersebut ada lima daerah dengan distribusi satu kasus. Antara lain, Kabupaten Barru, Enrekang, Selayar, Soppeng, dan Tana Toraja.

BACA:  Fasyankes Diminta Siap Laksanakan Proses Vaksinasi Covid-19

Sementara dari pertambahan kasus baru ini, Sulsel menyumbang 10.257 kasus terkonfirmasi Covid-19. Dari total tersebut 7.087 di antaranya tercatat telah sembuh atau pada periode ini sebanyak 74 yang dinyatakan telah sembuh. Kemudian, 334 pasien meninggal dunia atau 4 pasien meninggal di periode ini.

Kemudian jika merujuk pada laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, total kasus terkonfirmasi di Sulsel menempatkan daerah berjuluk Serambi Madinah ini berada pada urutan keempat.

Kemudian daerah dengan penyebaran terbanyak secara akumulatif yakni DKI Jakarta sebanyak 24.601, Jawa Timur sebanyak 24.493 dan Jawa Tengah sebanyak 10.383.

Kemudian dari distribusi harian Sulsel berada turun keurutan ketujuh dari sebelumnya di urutan ketiga se nasional. Urutan pertama DKI Jakarta dengan distribusi 665 kasus, kedua Jawa Timur dengan distribusi 378 kasus, ketiga Jawa Tengah dengan distribusi 232 kasus.

BACA:  PD Pasar Makassar Raya Perketat Pengawasan Protokol Kesehatan di Pasar Tradisional

Selanjutnya, di urutan keempat Sumatra Utara dengan 216 kasus, kelima Jawa Barat dengan 152 kasus dan ke-enam Kalimantan Timur dengan 98 kasus.

Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Sulsel Prof Ridwan Amiruddin mengungkapkan, di tengah-tengah pandemi Covid-19, pelaksanaan shalat Idul Adha dinilai akan memicu lonjakan kasus penularan.

Hal ini terjadi jika masyarakat atau jamaah yang akan melangsungkan shalat tidak menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan disiplin.

Kondisi ini karena akan terjadi perkumpulan massa yang besar pada waktu yang bersamaan di satu titik waktu tertentu, sehingga sangat berpeluang terjadinya penularan Covid-19.

“Potensi peningkatan kasus Covid-19 akan sangat tinggi jika kita mengabaikan penerapan protokol kesehatan yang telah diperintahkan. Termasuk saat shalat berjamaah di lapangan dan pada proses pembagian dan pemotongan hewan kurban,” katanya.

BACA:  Protokol Kesehatan Covid-19 Harus Diadaptasi Jadi Kebiasaan Baru

Mengantisipasi hal tersebut, agar penularan Covid-19 tidak meledak di tengah pandemi maka protokol kesehatan mutlak dilaksanakan.

“Jika protokol kesehatan kita abaikan maka seminggu setelah kegiatan akan terlihat peningkatan kasusnya,” terangnya.

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT