SDGs Center dan Pascasarjana Unhas Buat Rekomendasi Kebijakan Turunkan Stunting

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof. Budi Utomo
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof. Budi Utomo saat menjadi narasumber pada webinar "Tantangan dan Peluang Pencapaian Target Stunting RPJMN 2024 di Era Pandemi Covid-19", Sekolah Pascasarjana Unhas.

Makassar, SULSELSEHAT. COM — Universitas Hasanuddin melalui Sustainable Development Goals (SDGs) Center bekerja sama Sekolah Pascasarjana menggelar webinar “Tantangan dan Peluang Pencapaian Target Stunting RPJMN 2024 di Era Pandemi Covid-19”.

Salah satu pokok permasalahan yang dibahas dalam pertemuan tersebut yakni melakukan formulasi rumusan rekomendasi dalam penanganan angka stunting.

JANGAN LEWATKAN :

Hal ini sejalan dengan rencana pemerintah daerah terhadap aksi layanan dalam merespon mitigasi penurunan stunting pada 2024 sebesar 14 persen.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung Prof. Bustanul Arifin mengatakan, dalam menekan angka stunting hal pertama yang menjadi prioritas adalah pemenuhan pangan dan gizi yang baik.

BACA:  Tekan Jumlah Stunting di Kabupaten Gowa, Adnan Dorong Empat Faktor

Ia menjelaskan, dalam kebijakan mitigasi respon pencapaian target RPJM 2020 – 2024 terkait persoalan pangan dan gizi banyak hal yang menjadi permasalahan.

Di antaranya, kedaruratan pangan dan resesi ekonomi, target pangan dan gizi serta tantangan pencapaian, penurunan stunting, sampai pada strategi mitigasi pencapaian target.

“Fokus utama pemicu stunting adalah kelompok rumah tangga. Sehingga perlu adanya pendampingan untuk efektivitas penurunan stunting serta didukung oleh insentif anggaran pada kabupaten/kota yang track positif,” katanya dalam pernyataannya yang dikutip di Kanal YouTube Sekolah Pascasarjana Unhas, Senin (9/11/2020).

Olehnya itu, unsur terkecil dalam suatu daerah seperti desa menjadi ujung tombak pendampingan rumah tangga melalui diskresi dana desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMdes).

BACA:  Siap Wujudkan Takalar Go to Zero Stunting, Pemkab Siapkan 110 Duta Gizi

Hal senada juga diungkapkan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof. Budi Utomo.

Menurutnya, persoalan kemiskinan menjadi faktor utama yang mendorong tingginya angka kasus stunting, dan sebaliknya stunting juga berkontribusi dalam mendorong kemiskinan.

Di Indonesia sendiri, ketidakmerataan stunting pada masa kanak mengisyaratkan ketidakmerataan sosial-ekonomi dan kesehatan.

“Penurunan stunting tidak cukup melalui perbaikan gizi. Akan tetapi, perlu adanya penanggulangan infeksi dan faktor lainnya,” terangnya.

Sehingga kata Prof. Budi, proses penurunan anak stunting sebagai dampak intervensi memerlukan cukup waktu dan menuntut kombinasi intervensi gizi spesifik dengan bermuara pada layanan yang berkualitas, aman, keberlangsungan, dan menjangkau masyarakat secara luas.

Baca berita terbaru SulselSehat.com langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom.

INFORMASI TERKAIT