Makan Bergizi Gratis: Bergizi Saja Tak Cukup Jika Tidak Aman

  • Whatsapp
Firayanti Amelia, Mahasiswa S2 Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin
Firayanti Amelia, Mahasiswa S2 Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin

Oleh: Firayanti Amelia, Mahasiswa S2 Ilmu Gizi FKM Universitas Hasanuddin

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu langkah strategis pemerintah untuk memastikan pemenuhan gizi masyarakat, khususnya bagi kelompok usia sekolah dan komunitas rentan.

Program ini membawa harapan besar agar tidak ada lagi anak yang belajar dalam kondisi lapar, dan tidak ada masyarakat yang tertinggal karena kekurangan gizi. Namun di balik semangat besar tersebut, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan—keamanan pangan.

Sebagai mahasiswa S2 Ilmu Gizi yang tengah mendalami mata kuliah Keamanan Pangan, saya melihat bahwa keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh menu yang tampak seimbang atau anggaran yang dialokasikan, tetapi juga oleh seberapa aman makanan tersebut ketika sampai di tangan penerima.

Makanan yang secara nutrisi baik sekalipun dapat berubah menjadi ancaman serius jika tidak dikelola dengan benar. Di sejumlah kasus, keracunan pangan bahkan muncul sebagai indikator nyata bahwa sistem pengawasan belum berjalan optimal.

Keracunan pangan adalah kondisi akut akibat konsumsi makanan yang terkontaminasi bahan kimia, racun alami, atau mikroorganisme patogen seperti Salmonella, E. coli, dan Staphylococcus aureus.

Dalam konteks MBG, risiko semacam ini tidak boleh diremehkan. Program yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup justru dapat berbalik membahayakan jika aspek keamanan pangan terabaikan.

Melalui analisis yang saya lakukan, sejumlah titik kritis dalam penyelenggaraan MBG perlu mendapatkan perhatian lebih serius.

Permasalahan bisa bermula sejak tahap pengadaan bahan pangan. Bahan yang tampak segar belum tentu aman jika telah terpapar residu pestisida berlebihan atau terkontaminasi mikroba.

Ketika proses sortasi tidak dilakukan dengan ketat, bahan berisiko ini dapat masuk ke dapur bersama bahan lainnya.

Tahap pengolahan juga menjadi sumber potensi masalah. Praktik kebersihan penjamah makanan sering kali menjadi faktor penentu.

Mencuci tangan, menjaga sanitasi peralatan, hingga memastikan suhu pemasakan yang aman adalah langkah dasar yang tidak boleh dianggap remeh.

Namun pada dapur berskala besar, baik di sekolah, panti, maupun fasilitas layanan boga, tekanan volume dan waktu sering membuat langkah-langkah ini terabaikan.

Keamanan makanan semakin rentan ketika masuk ke fase penyimpanan dan distribusi. Makanan yang dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang, pendinginan yang tidak tepat, atau proses distribusi yang tidak terkontrol dapat memicu pertumbuhan bakteri dengan cepat.

Dalam program seperti MBG, yang melibatkan penyebaran makanan dalam jumlah besar dan ke banyak titik, risiko ini menjadi semakin tinggi jika tidak ada sistem pemantauan yang efektif.

Itulah mengapa saya meyakini bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak dapat dipisahkan dari penerapan prinsip keamanan pangan seperti Good Handling Practices (GHP), Good Manufacturing Practices (GMP), dan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP).

Prinsip-prinsip ini bukan sekadar standar teknis dalam dokumen, tetapi panduan praktis yang harus menjadi budaya kerja di setiap tahapan penyediaan makanan.

Program MBG tentu bukan tanpa tantangan. Namun, tantangan tersebut justru menjadi alasan kuat mengapa keamanan pangan harus ditempatkan setara dengan upaya pemenuhan gizi. Gizi yang baik tidak akan pernah mencapai tujuannya jika makanan yang diberikan tidak aman.

Dalam skenario terburuk, keracunan pangan dapat merusak kepercayaan publik dan menghambat keberlanjutan program yang sejatinya sangat bermanfaat ini.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa keberhasilan MBG bergantung pada tiga pilar utama, yaitu edukasi, pengawasan, dan komitmen terhadap standar keamanan pangan.

Ketiganya harus berjalan paralel agar makanan yang disajikan tidak hanya bergizi, tetapi juga aman, bermutu, dan layak konsumsi. Program Makan Bergizi Gratis harus menjadi simbol kemajuan, bukan sumber kekhawatiran baru. (*)

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT