Pemerintah akan Prioritaskan Eliminasi Hepatitis B dari Ibu Ke Anak

Ilustrasi penularan Hepatitis B dari ibu ke anak.
Ket. Gam: Pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan RI memprioritaskan upaya dalam memutus mata rantai penularan Hepatitis B dari ibu ke anak. (Foto: hellosehat.com)

Makassar, SULSELSEHAT — Pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan RI memprioritaskan upaya dalam memutus mata rantai penularan hepatitis B dari ibu ke anak. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan sedini mungkin pada ibu hamil.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dr Wiendra Waworuntu mengatakan, langkah yang dilakukan yaitu dengan mendeteksi semua ibu hamil apakah memiliki gejala hepatitis B atau tidak.

JANGAN LEWATKAN :

“Tetapi bukan hanya hepatitis B, kita mempunyai program triple yakni hepatitis B, HIV dan sifilis, sehingga cara memutuskannya dengan itu,” kata dr Wiendra dalam pernyataannya yang diterima Sulselsehat.com, Kamis (30/07/2020).

BACA:  Perkuat Layanan Berbasis Digital, Kemenkes Luncurkan TNDE Mobile Version

Sejalan dengan itu, kementerian kesehatan telah menyusun sejumlah program pencegahan penularan Hepatitis B dari ibu ke anak.

Antara lain, pemberian imunisasi Hepatitis B (3 dosis) untuk semua bayi guna mengurangi insiden, pemberian HB0 <24 jam pada semua bayi yang baru lahir untuk mengurangi transmisi dari ibu ke bayi, pemeriksaan pada ibu hamil, ANC dan pemantauan bayi, pemberian HBIg pada bayi lahir dari ibu reaktif HBsAg serta pemberian tenofovir pada bumil dengan VL tinggi.

“Untuk kegiatan Pedoman Program Pencegahan Penularan HIV, Sifilis dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak (PPIA) sudah kita lakukan di Indonesia yaitu pemberian dosisi hepatitis B kepada bayi, dimana HB0 <24 jam dan Imunisasi Dasal Lengkap (IDL) secara nasional harus diberikan kepada semua bayi secara gratis. Ini merupakan program proritas nasional dari pemerintah,” terangnya.

BACA:  Tingkatkan Produksi Obat Dalam Negeri, Kemenkes Bina 230 Industri Farmasi

Sebagai prioritas utama, pemerintah terus melakukan upaya percepatan pengendalian Hepatitis B di Indonesia.

Pasalnya, hingga Juni 2020, ada sekitar 73,2 persen kabupaten/kota yang melakukan deteksi dini belum mencapai target, capaian jumlah ibu hamil periksa deteksi dini hepatitis B pada triwulan kedua tahun 2020 baru mencapai 724.497 orang, sementara cakupan imunisasi HB0 periode Januari hingga Juni 2020 baru sekitar 40 persen.

“Untuk vaksinasi yang kita harapkan harusnya bisa 80-90 persen. Kami mendapat laporan bahwa untuk HB0 masih tahun lalu mencapai 86 persen, tetapi pada periode Januari-Juni ini baru sekitar 40 persen. Artinya kita masih harus bekerja keras, agar bisa mencapai target 90 persen,” ujarnya.

BACA:  Tim Kemenkes RI Evaluasi Penanganan Covid-19 di Kabupaten Gowa

dr Wiendra menilai penurunan ini sedikit banyak disebabkan oleh pandemi Covid-19, yang mana banyak orang takut untuk datang ke pelayanan kesehatan.

Untuk itu, pihaknya mengimbau agar masyarakat tetap memberikan imunisasi pada anak tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku.

“Di daerah sudah ada strategi-strategi yang dibuat seperti imunisasi dengan protokol kesehatan seperti APD lengkap, pakai masker, jaga jarak, atau bisa membuat janji, sehingga bisa tercapai cakupan yang sesuai dengan target,” tutur Wiendra.

Tak hanya eliminasi hepatitis, pandemi Covid-19 juga telah menganggu pengendalian TB dan HIV. Untuk itu, pihaknya terus melakukan upaya percepatan pengendalian penyakit menular lainnya guna mencapai target yang telah ditetapkan.

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT