Kasus Harian Covid-19 Sulsel Menurun, Epidemiolog: Jumlah Spesimen Diperiksa Jauh dari Target WHO

Makassar, SULSELSEHAT – Kasus baru harian penularan virus corona atau Covid-19 di Sulawesi Selatan dalam minggu kelima tercatat menurun. Khusus diperiode Kamis, 27 Agustus 2020 kasus baru terkonfirmasi sebanyak 42 kasus dari 731 spesimen yang diperiksa.

Ketua Tim Konsultan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulawesi Selatan Prof Ridwan Amiruddin mengungkapkan, hal ini karena angka spesimen yang diperiksa setiap harinya memang jauh dari standar yang tetapkan World Health Organization (WHO).

JANGAN LEWATKAN :

Misalnya, jika di nasional pemeriksaan spesimen baru mencapai 35,6 persen, sementara idealnya adalah 1/1.000 penduduk per pekan. Maka di Sulsel masih jauh berada di angka tersebut.

BACA:  Menkes Terawan: Vaksin Covid-19 Sinovac Sudah Lolos Uji Klinis, Dijamin Aman

“Sulsel baru 0.33/1000 per minggu. Ini yang terus diusahakan. Kalau standar 1/1000 per minggu belum terpenuhi,” katanya saat dikonfirmasi Sulselsehat.com, Kamis (27/8/2020).

Prof Ridwan menyebutkan, sejak Maret 2020 lalu hingga saat ini, jumlah spesimen yang telah diperiksa di Sulsel sekitar 92.000 spesimen yang ada di delapan laboratorium pemeriksaan.

Antara lain BBLK Makassar, RS. Wahidin Sudirohusodo, RSPTN Unhas, BTKL, BBVet Maros, RS Bayangkara Makassar, RS Palamonia Makassar dan Lakesda Soppeng.

“Saat ini kita sedang berusaha memenuhi target sesuai standar WHO. Saat ini, ada 8 laboratorium pemeriksaan spesimen dan 2 mobil PCR yang beroperasi di bawah koordinasi gugus tugas. Upaya maksimum ini terus dijalankan dengan mengoptimalkan peran puskesmas dan tim TGC,” terang Pakar Epidemiologi Unhas ini.

BACA:  Kabar Baik! 4 Nakes Pangkep yang Positif Covid-19 Sudah Sembuh

Ia tak pun menapik jika saat ini jumlah spesimen yang diperiksa di laboratorium Sulsel juga kian hari kian menurun. Misalnya pada periode ini jumlah spesimen yang diperiksa hanya 731, padahal sebelumnya rata-rata pemeriksaan spesimen di Sulsel bisa mencapai 1.200, itu bahkan sebelum ada mobil PCR.

Menurut Prof Ridwan, adanya kondisi tersebut bukan menjadi hal pelaksanaan tracing dan testing juga menurun. Tracing dan testing tetap dilakukan hanya saja lebih fokus pada kontak erat, dibandingkan masyarakat umum. Hal ini berdasarkan petunjuk dan teknis (Jukni) Kementerian Kesehatan yang baru.

“Jadi sekarang pekerjaannya adalah bagaimana tim tracer meningkatkan kapasitas untuk melacak. Nah, melacaknya kan untuk selama ini masih 5 hingga 10 orang. Kami meningkatkan kontak erat selama sepekan atau dua pekan terakhir dari seluruh kasus yang terkonfirmasi positif harus dilacak,” tutup Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas ini.

BACA:  Sejumlah Pejabat dan Dosen Unhas Sembuh dari Covid-19

Baca berita terbaru SulselSehat.com langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom.

INFORMASI TERKAIT