Peringatan HPN 2020, Kantor akan Dicanangkan jadi Wilayah Bebas Nyamuk

Hari Pengendalian Nyamuk (HPN)
Puncak peringatan Hari Pengendalian Nyamuk (HPN) bertajuk “Pengendalian Vektor sebagai Upaya Utama dalam Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dalam Tatanan Baru New Normal”, di Hotel Gammara Makassar.

Makassar, SULSELSEHAT — Pada peringatan Hari Pengendalian Nyamuk (HPN) tahun ini, target utama yang akan didorong adalah bagaimana kantor bebas dari penyebaran nyamuk tular vektor. Hal ini lantaran kantor sebagai tempat aktivitas kedua setelah rumah.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI dr. Achmad Yurianto mengatakan, pencanangan Kantor Bebas Nyamuk (KBN) yang dimaksudkan untuk benar-benar bisa mewujudkan semua perkantoran bebas nyamuk. Tujuannya guna menghindari penularan penyakit serta meningkatkan produktivitas kerja.

JANGAN LEWATKAN :

“Kita tahu bahwa banyak penyakit yang ditularkan melalui nyamuk, kemudian kantor ini relatif menjadi rumah kedua kita, oleh karenanya kita harus menghilangkan faktor-faktor penularan penyakit akibat nyamuk yang dapat menularkan penyakit saat berada di kantor,” katanya di sela-sela puncak peringatan Hari Pengendalian Nyamuk (HPN) bertajuk “Pengendalian Vektor sebagai Upaya Utama dalam Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dalam Tatanan Baru New Normal”, di Hotel Gammara Makassar, Jumat (23/10/2020).

Ia mengaku, KBN ini akan menjadi cikal bakal dalam menciptakan kondisi perkantoran atau rumah kedua, bebas nyamuk dan bebas penularan penyakit.

BACA:  Gugus Tugas Sulsel Sebut 60 Persen Nakes Sudah Sembuh dari Covid-19

“Kantor harus benar benar bebas dari nyamuk agar kita bisa bekerja dengan baik dan tidak tertular penyakit-penyakit yang disebabkan melalui nyamuk,” katanya lagi.

Ia menyebutkan, berbagai penyakit yang disebabkan vektor nyamuk antara lain, nyamuk demam berdarah dengue (DBD), Chikungunya, Japanese Encephalitis (JE) dan Zika termasuk diantara emerging disease yang menjadi masalah kesehatan masyarakat.

DBD, Chikungunya dan Japanese Encephalitis tersebut dapat menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) terutama musim penghujan sedangkan Zika ditetapkan organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

dr Yuri menjelaskan, sebenarnya KBN tujuannya untuk membangun mindset bagi mereka yang melakukan aktivitas di kantor agar berperan dalam mengendalikan penyebaran nyamuk. Sehingga hal ini dapat dibawah ke rumah masing-masing dan dapat diimplementasikan.

“Jika di kantor kita dapat berperan mengendalikan penyebaran nyamuk, maka sampai di rumah sendiri kita juga bisa melakukannya, sekaligus bisa mendidik secara keseluruhan untuk bisa menjadi budaya mengendalikan nyamuk,” terangnya.

BACA:  Naik Peringkat Dua Nasional, Hari Ini 218 Kasus Baru Positif Covid-19 di Sulsel

Dalam mewujudkan Kantor Bebas Nyamuk maka beberapa hal akan dilakukan.

Pertama, memperkuat sosialisasi ke seluruh lapisan masyarakat bahwa nyamuk harus dikendalikan sehingga penyakit bisa terkendali.

Kedua, secara fisik membangun budaya lingkungan kerja harus bebas nyamuk, dan jangka panjangnya juga akan terbangun di sekolah dan rumah akan menjadi bebas nyamuk.

“Ini yang paling penting karena bagaimanapun juga perilaku kita yang menyebabkan penyebaran nyamuk itu terkendali atau tidak, ” tegas dr Yuri.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan dr. Ichsan Mustari mengaku akan mendukung rencana pencanangan Kantor Bebas Nyamuk tersebut.

“Selain penularan Covid-19, penyebaran nyamuk juga perlu kita waspadai karena dapat menimbulkan berbagai penyakit. Apalagi kita ini sudah mau masuk musim peralihan,” katanya.

Olehnya, untuk mendukung hal ini pihaknya akan melakukan sosialisasi di seluruh lingkup organisasi perangkat daerah (OPD) yang ada.

Sejauh ini ada tiga kantor yang telah melakukan penilaian KBN, yakni Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulsel, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulsel dan Dinas Kehutanan Provinsi Sulsel.

Sementara, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik drh. Didik Budijanto menjelaskan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyebaran penyakit arbovirosis di Indonesia.

BACA:  Tenaga Kesehatan (Banyak) Terinfeksi Covid-19; Pemerintah Harus Turun Gunung

Antara lain urbanisasi yang tak terkontrol seiring meningkatnya kepadatan penduduk, tingkat mobilitas yang tinggi antar daerah, perilaku masyarakat seperti membuang sampah sembarangan dan kesadaran melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) masih rendah, serta perubahan iklim.

“Pengendalian vektor merupakan upaya preventif yang paling efektif dalam pencegahan penyakit. Langkah ini akan lebih efektif dan hasilnya maksimal jika melibatkan peran serta masyarakat,” ujar drh. Didik.

Upaya pengendalian nyamuk bisa mulai dari diri sendiri dan keluarga dengan menjaga lingkungan yang bebas dari jentik nyamuk sampai nyamuk dewasa mulai dengan gerakan 1 rumah 1 jumantik, PSN 3M Plus dan KBN menjadi keharusan dan bagian dari kehidupan sehari-hari untuk menjaga kebersihan lingkungan kita.

Pengendalian nyamuk sebagai salah satu vektor penyakit maka secara teoritis ada dua hal besar yang harus dilakukan.

Pertama, melakukan rekayasa lingkungan sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk.

Kedua, melakukan penyadaran terhadap perilaku hidup sehat, baik sifatnya umum maupun spesifik di lingkungan masyarakat tersebut berada atau tinggal.

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT