Kolom Prof Veny Hadju: Memahami Stunting (2)

Prof. dr. H. Veni Hadju, M.Sc., Ph.D

Oleh: Prof. dr. H. Veni Hadju, M.Sc., Ph.D
(Dosen dan Guru Besar pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin)

Suka duka beraktivitas dalam menurunkan stunting di berbagai daerah sangat menarik. Dalam suatu diskusi seorang pimpinan OPD dengan sedikit emosional mengatakan bahwa STUNTING ini hanya menghabiskan anggaran saja.

JANGAN LEWATKAN :

“Terlalu banyak pertemuan yang dilakukan. Padahal orang pendek banyak yang jadi dokter, jadi pejabat dan bahkan presiden” kata beliau. Peserta lainnya diam dan sepertinya mendukung pendapat ini.

Saya berusaha sabar dan membiarkan mereka menumpahkan unek-uneknya. Dengan perlahan-lahan saya kembali menjelaskan bagaimana penurunan stunting yang telah diterapkan di berbagai negara termasuk di Jepang.

BACA:  Stunting di Gowa Tertinggi ke-4 di Sulsel, Priska: Pola Asuh Anak Harus Diperbaiki

Awal tahun 1900-an, anak pendek di Jepang sebesar 60%. Saat menjajah Indonesia tahun 1942-1945 jumlah anak pendek di Jepang masih sebesar 50%. Makanya, ada julukan “orang katek” untuk tentara Jepang waktu itu.

Dengan kerja keras dan penuh optimisme negara Jepang bisa menjadikan generasinya bebas masalah stunting. Saat ini, kita melihat para pemuda pemudinya jauh lebih tinggi dari orang tuanya.

Butuh waktu sekitar 30 tahun untuk melihat generasi Jepang dengan tinggi badan yang optimal seperti itu. Keberhasilan Jepang telah menginspirasi berbagai program kesehatan dan gizi di berbagai belahan dunia.

Jepang memberi penekanan pada pelayanan kesehatan dan gizi pada ibu hamil serta perawatan bayi dan anak dengan pemberian ASI serta makanan pendamping ASI yang optimal di tahun pertama kehidupan.

BACA:  Pandemi Covid-19, Dinkes Sulsel Fokus Tekan Angka Stunting di Enrekang dan Bone

Buku KIA (Kesehatan Ibu Anak) yang digunakan secara merata di Indonesia saat ini adalah adopsi dari Jepang melalui proyek JICA.

Hanya memang masih banyak kendala di negara yang kita cintai ini terutama terkait dengan tingkat pendidikan ibu di banyak wilayah pedesaan yang setengahnya tidak tamat SMA disamping budaya masyarakat terhadap kepedulian ibu hamil dan bayi yang masih rendah.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya: Wawashshainal insaana biwaalidaihi ihsaanan hamalathu ummuhuu kurhaw wawadha’athu kurhaa wahamluhuu wafishaaluhuu tsalaatsuuna syahraa (QS Al-Ahqaaf 46:15).

Artinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan.

BACA:  30 Pendamping Gizi Siap Layani Bumil dan Baduta di Daerah Lokus Enrekang

MENJAMIN KESEHATAN DAN GIZI IBU HAMIL DAN BAYI DI TAHUN PERTAMA KEHIDUPAN MENDUKUNG PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING.

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT