Pandemi Covid-19, Ini Jumlah Testing Ideal yang Harus Dilakukan di Sulsel

Ilustrasi Testing Covid-19
Ilustrasi Testing Covid-19. (Foto: alodokter.com)

Makassar, SULSELSEHAT – Pandemi virus Corona (Covid-19) di Sulawesi Selatan masih akan terus berlangsung. Belum ada tanda-tanda akan segera berakhir.

 

Bahkan dalam beberapa hari terakhir, kasus positif terus bertambah. Jumat (12/06) kemarin, kasus yang dilaporkan mencapai 2.578. Secara nasional, Sulsel kini sudah menjadi ‘zona merah’ menyusul Jakarta dan Surabaya.

JANGAN LEWATKAN :

Epidemiolog dan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas, Prof Ridwan Amiruddin saat dihubungi SulselSehat.com, Sabtu (13/06/2020) menuturkan, pesatnya peningkatan jumlah kasus positif disebabkan oleh sejumlah faktor.

“Peningkatan kasus 3 hari terakhir ini (adalah) dampak dari pelepasan PSBB dan lebaran. (Juga) massive tracking dan aggressive testing yang sudah dijalankan di Makassar,” jelasnya.

BACA:  Pertama di Indonesia, UNHAS Ciptakan Alat Pembersih Aerosol Atasi Covid-19

Sebelumnya, Tim Epidemiologi dari FKM Unhas telah merekomendasikan tiga program akselerasi kepada pemerintah dalam upaya mengendalikan penyebaran Covid-19, disebut TRISULA.

Ketiga langkah itu adalah aggressive testing, massive contact tracing and isolation (quarantine) dan public health promotion and education (massive campaign).

Jumlah Testing Ideal

Terkait dengan program aggressive testing, Ridwan menyebut angka ideal testing adalah minimal 3.500 per 1 juta populasi, atau 1 persen dari jumlah total populasi.

“Secara umum minimal 3500/1 juta populasi atau sekitar 1% populasi,” cetusnya.

Menurut dia, jumlah ini adalah yang paling mungkin dan mudah dilakukan, khususnya di Sulawesi Selatan.

Sehingga dengan populasi Sulsel yang mencapai 8,82 juta (2019), maka diperlukan testing terhadap paling kurang 88 ribu penduduk.

BACA:  FT Unhas Gandeng FKG Hadirkan E-Magic, Penghisap Aerosol Covid-19 dari Mulut

Sementara di Kota Makassar dengan total 1,6 juta penduduk (2019), minimal yang harus dites adalah 16 ribu orang.

Ridwan menambahkan, testing yang ideal adalah dengan metode swab-PCR, bukan rapid test.

“Idealnya pakai swab, namun rupanya kapasitas untuk swab yang (masih) perlu ditingkatkan. Semua yang reaktif rapid segera diisolasi dan sekitar 3-4 hari (kemudian) diswab,” jelasnya.

Testing Sampai Kapan?

Dilansir dari Tribun-Timur.com, Epidemiolog dr Dicky Budiman M.Sc.PH, PhD (Cand) Global Health Security CEPH Griffith University mengatakan, pengetesan dan pelacakan memang harus dilakukan secara masif dan agresif.

Keberhasilan pengetesan massal salah satunya adalah menemukan kasus-kasus positif sehingga dapat terdeteksi lebih awal dan mencegah penularan.

BACA:  Gandeng PD IBI dan AIPKIND, FKM Unhas Bakal Buka Prodi Kebidanan dan Profesi

“Kendali atas strategi testing ini salah satunya di positive rate-nya,” ujar dia.

“Hingga positive rate kurang dari 5 persen, malah kalau bisa di bawah 2 persen. Selain itu juga proporsi ideal tes (1 persen dari total populasi) atau 1 tes per 1.000 orang per minggu,” papar Dicky.

Pengetesan baru dapat menurun setelah mencapai target ideal tersebut. Hal itu ditandai juga dengan sedikitnya kasus positif yang ditemukan atau bahkan nol kasus baru.

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT