Tenaga Medis Disarankan Gunakan Bahasa Lokal Tangani Pasien Covid-19

Asriani Abbas Peneliti Bahasa Indonesia UNHAS
Asriani Abbas, Peneliti Bahasa Indonesia UNHAS menyarankan tenaga medis gunakan bahasa lokal saat melayani pasien Covid-19. (Foto: Google Scholar)

Makassar, SULSELSEHAT – Peneliti Bahasa Indonesia dari Universitas Hasanuddin Makassar, Asriani Abbas mengatakan banyaknya kasus kesalahpahaman antara pasien, keluarga pasien dan tenaga medis di rumah sakit (RS) selama pandemi Covid-19 dilatarbelakangi beberapa faktor, salah satunya adalah penggunaan bahasa yang kurang tepat.

Menurutnya, penggunaan bahasa lokal sangat diperlukan saat berinteraksi dengan keluarga pasien Covid-19 yang sedang dirawat di rumah sakit. Ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman antara pihak keluarga pasien dan tenaga medis yang mengakibatkan terjadinya kasus yang tak diinginkan.

JANGAN LEWATKAN :

BACA:  Dari Target 80 Ribu, Pemprov Sulsel Telah Lakukan 55 Ribu Tes Swab

“Saat berinteraksi dengan pasien ataupun keluarga pasien, sebaiknya pihak rumah sakit menggunakan bahasa lokal sehingga tidak terjadi kesalahpahaman, misal jika pasien dari Makassar maka gunakan bahasa Makassar, kalau bahasa Bugis, maka gunakan bahasa Bugis,” ujarnya, Kamis (11/06/2020).

Dosen Fakultas Ilmu Bahasa Unhas ini menilai bahasa daerah memiliki kekuatan untuk membangun kedekatan secara persuasif terhadap keluarga pasien. Selain itu, kata dia, untuk memasyarakatkan bahasa daerah.

“Bahasa lokal sangat membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat karena ada rasa kedekatan. Ada naluri kedekatan,” ungkapnya.

Asriani memandang, saat ini, bahasa yang digunakan untuk sosialisasi kepada masyarakat kebanyakan menggunakan bahasa atau istilah asing. Seharusnya, pemerintah memberikan padanan kata yang lebih mudah dipahami masyarakat.

BACA:  Kemenkes Uji Sel Punca untuk Terapi Pasien Covid-19

“Bahasa Indonesia yang mudah dipahami masyarakat, dan tak terlepas dari penggunaan bahasa daerah,” sambungnya kemudian.

Dirinya menganggap masyarakat kalangan ‘bawah’ belum memahami dengan baik makna yang disampaikan pemerintah. Selama ini, kata dia, hanya disampaikan melalui media.

“Penyuluhan itu harusnya secara langsung kepada masyarakat. Perlu tatap muka langsung dengan masyarakat,” ucapnya.

Ia menilai informasi yang diterima melalui media sosial tak memberi penjelasan secara rinci soal Covid-19. Akibatnya, kata Asriani, konflik yang terjadi lantaran masyarakat tak percaya lagi terhadap pemerintah.

“Karena ketidakpahaman, kepercayaan terhadap pemerintah tidak ada atau berkurang. Demikian pula kepercayaan kepada tim medis,” urainya.

Padahal, menurut Asriani, tim medis sudah menjalankan standar operasional yang telah ditetapkan badan kesehatan dunia (WHO).

BACA:  Covid-19 Maros: Bertambah 6 Kasus Baru, Kasus Positif Capai 251 Orang

“Bukannya berterima kasih, malah justru antipati terhadap tenaga medis. Kasian kalau (tenaga medis) tidak dibina dengan baik menggunakan bahasa Indonesia dan daerah yang baik,” tutupnya.

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT