Residen dan Koas Spartan

Dokter Residen

Penulis: dr Zul Asdi Sp.B, M.Kes
(Ketua IDI RIAU)

 

Spartan adalah kisah sejarah pengepungan yang dilakukan tentara besar Persia terhadap pasukan Yunani. Untuk menyelamatkan pasukan Yunani, Leonides dan 300 orang sparta berjuang sampai mati untuk membela pasukan Yunani yang lain.

JANGAN LEWATKAN :

Ada banyak pendapat tentang jumlah tentara Persia, dari 200 ribu orang sampai sejuta.

Cerita pengorbanan selalu berulang dalam sejarah. Selalu ada yang mau bekorban untuk orang banyak dan selalu ada yang mencari selamat sendiri. Pencari selamat ini bisa siapa saja, tanpa melihat pangkat, kekayaan, dan jabatan.

Pada sekitar tahun 1850, Belanda kehabisan akal untuk melawan wabah cacar di pulau Jawa, walaupun vaksin sudah ditemukan sebelumnya. Masalah muncul pada tenaga kesehatan yang mau terjun ke tengah wabah, siapa?

Di waktu itu, pelayanan kesehatan baru menyentuh di kalangan penguasa Belanda, masyarakat awam hampir tidak tersentuh pelayanan kesehatan. Namun karena ini wabah, cepat atau lambat akan mengancam penguasa juga, maka timbulah ketakutan akan penyakit dan resiko ekonomi pemerintah Belanda.

Untuk itu William Bosch mengajukan usul untuk mendidik masyarakat pribumi untuk belajar ilmu kedokteran, terbatas menjadi ahli vaksin, sebagai vaksinator. Maka berdirilah pendidikan “mantri cacar” yang akan menjadi cikal sekolah kedokteran Indonesia.

Mantri cacar dikirim pemerintah Hindia-Belanda untuk mengatasi wabah cacar, dengan segala resikonya. Hanya beberapa orang pada awalnya, menghadapi kasus yang besar, dalam hal ini dokter belanda hanya supervisi dari jauh.

BACA:  Tekan Laju Penularan Covid-19, Pemkot Makassar Swab Massal 5 Ribu Warga

Begitu juga wabah Pes di awal abad 20 sekitar tahun 1920, dalam sejarah tercatat dokter Tjipto Mangunkusumo dan kawan-kawan dalam jumlah belasan orang turun menghadapi wabah Pes ke beberapa kota.

Sekali lagi, tenaga kesehatan Belanda mengandalkan tenaga kesehatan pribumi untuk mengatasi masalah kesehatan wabah. Kejadian seperti ini terjadi berulang dalam banyak sejarah banyak tempat seluruh dunia.

Akan selalu ada yang siap berkorban atas dasar sebangsa dan setanah air, atau lebih tinggi lagi, atas dasar kepentingan kemanusiaan. Juga akan selalu ada pihak yang berharap orang lain yang berkorban untuk kepentingan bersama.

Sejarah berulang, wabah datang dan pergi. Saat ini terjadi wabah yang mendunia covid 19. Selalu akan muncul pejuang yang mau  berkorban demi kepentingan orang banyak, yang menghindar, yang menolak mengakui ada wabah, dan yang gagap membaca masalah di lapangan.

Dokter di pelayanan primer misalnya, tiap hari beresiko terpapar pasien penderita Covid-19, dengan keterbatasan alat pelindung diri (APD- secara bertahap sudah diupayakan)

Ada dokter relawan Covid-19 dan dokter layanan rutin. Salah seorang dokter bertanya, “siapakah sebenarnya dokter dan tenaga kesehatan relawan Covid-19 itu?”

Lalu mereka menjawab sendiri, “ mau diakui relawan atau tidak, terserah,” katanya, yang jelas tiap hari mereka beresiko terpapar. “Sudah tidak dipikirkan insentif yang dijanjikan tambahnya, yang penting bekerja saja”.

BACA:  Nakes yang Mau Divaksin Covid-19 Kini Bisa Daftar Via Whatsapp

Begitu juga dengan dengan peserta pendidikan dokter spesialis (PPDS) dan mahasiswa yang  mengikuti pendidikan program profesi dokter, dan program pendidikan di bidang kesehatan lainnya, mau tidak mau, mereka diandalkan untuk menangani pasien Covid-19 di rumah sakit pendidikan.

Begitu juga dengan semua dokter ugd dan  bangsal di semua rumah sakit di Indonesia dan tenaga kesehatan lainnya.

Berulang kali di media, muncul berita puluhan dokter UGD dan peserta didik positif corona. Awalnya hanya di pusat pendidikan A, lalu B, dan terus ke pusat pendidikan lainnya.

Berita muncul di mana- mana, keprihatinan ada di mana-mana,  ada banyak komentar dan tanda ikut prihatin, namun  kasus positif covid terjadi lagi, lagi, dan lagi.

Apakah ini akan terus dibiarkan? Siapa yang berkuasa untuk mengamankan mereka? Siapa yang berwenang? Peserta didik hanya bisa mengeluh dalam diam, menangis yang tertahan, bingung apakah perlu meneruskan pendidikan ini atau mengambil resiko.

Apalagi ada yg memberikan pilihan melalui isian formulir, diminta siap dengan resiko.

Ini  tidak adil, posisi peserta didik terlalu lemah .

Pilihannya mereka  menyetujui mengisi peryataan siap dengan segala resiko,ini perjanjian yang tidak seimbang, mohon para ahli di bidang hukum kesehatan mengkritisinya.

Bukankah dalam UU DIKDOK ditegaskan bahwa peserta didik wajib mendapat perlindungan hukum, perlindungan dalam bekerja, insentif, dan waktu istirahat yang cukup?

BACA:  32 Nakes di Takalar Positif Covid-19, Diduga Terjangkit Saat Rapid Test Warga

Lalu bagaimana dengan regulasi? Di negara kita regulasi selalu sempurna, namun pelaksanaannyalah yang tidak sesuai.

Ada banyak bentuk kebijakan di banyak pusat pendidikan, ada yang di tetapkan dekan, semua harus ikut, ada yg diserahkan ke bagian masing- masing, ada yang koas online, ada yang datang beberapa jam saja, ada yang disediakan APD terbatas, ada yang diupayakan sendiri, ada banyak aturan sendiri sendiri dan kadang berbeda pendapat di kalangan pengajar.

Bagaimana dengan PPDS? Tentu mereka tidak punya pilihan ,tidak bisa residensi online, harus langsung ke pasien, pasukan spartan sejati.

Ada banyak pasien, ada waktu panjang bekerja yang kadang berhari- hari tidak pulang, ada tugas- tugas, dan keterbatasan alat pelindung diri dan variasi kemampuan ekonomi.

Seperti pasukan spartan, mereka tidak punya pilihan, mereka harus siap melayanani pasien dalam semua kondisi.

Namun dengan kenyataan semakin banyak yang terpapar, ini sebenarnya adalah “alarm” gawat darurat  bagi pengambil  kebijakan untuk segera melakukan langkah- langkah penyelamatan untuk PPDS dan seluruh tenaga kesehatan agar tidak tertular Covid-19, apakah itu kebijakan jam kerja, ketersedian APD, pemeriksaan kesehatan rutin, suplai nutrisi dan vitamin, insentif dan lain sebagainya.

Kalaupun mereka pasukan spartan, pengawalan keselamatan mereka adalah mutlak, apalagi mereka dalam posisi tidak berdaya.

Semoga semua pihak terkait, dapat mengambil langkah yang diperlukan.

Doa untuk semua tenaga kesehatan, tenaga medis, dan untuk semuanya.

Semoga bermanfaat. Amin…

Sumber: Medisia.com

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT