Dampak Fluktuasi Kasus Harian Covid-19 di Sulsel

Update Covid-19

Oleh: Prof. Ridwan Amiruddin
(Guru Besar Epidemiologi FKM Unhas)

 

Membaca pergerakan kasus harian Covid-19 di Sulawesi Selatan membuat pembaca ketar-ketir, sehingga terkadang memberikan respon yang sering berlebihan.

JANGAN LEWATKAN :

Kondisi tersebut akhirnya bermuara pada kecemasan ringan (60%) hingga sangat cemas (15%) (Studi psikososial, Persakmi, 2020).

Hal ini tentu kurang bagus dalam perkembangan psikologi warga. Karena kecemasan yang bersifat kronis ini dapat berpengaruh buruk pada aspek imunitas hingga produktifitas masyarakat

Aspek kecemasan ini rupanya menyasar berbagai kalangan; mulai siswa, kelompok agama, pekerja, hinggu ibu rumah tangga.

BACA:  Akademisi FKM Unhas Harapkan Segera Ada Solusi Untuk Penyakit Non-Covid

Dasar kecemasan yang mendasar pada siswa adalah karena ketidakmampuan mengikuti materi pembelajaran dengan sistem daring. Untuk kecemasan karena aspek religi karena para jamaah tidak bisa melaksanakan ibadah secara berjamaah.

Pada aspek pekerjaan kecemasan terjadi karena ancaman pemutusan kerja dan income yang menurun. Begitu juga pada kelompok ibu rumah tangga dimana kecemasan terkait dengan pengaturan belanja harian rumah tangga dan kesehatan anggota keluarga.

Bagaimana menjelaskan fluktuasi kasus harian Covid-19 ini sebenarnya?

Berdasarkan laporan harian dari lab yang memeriksa specimen itulah yang dilaporkan atau dirilis ke publik.

Jadi kasus yang terlapor setiap hari di media itu sebenarnya adalah peristiwa yang terjadi sekitar 4-6 hari yang lalu. Sangat ditentukan oleh kapasitas uji lab yang dimiliki.

BACA:  Untuk Ibu Hamil, Dinkes Makassar Butuh Minimal 14 Ribu Alat Rapid Test

Secara umum faktor penyebab jumlah kasus terlapor cenderung meningkat adalah:

1. Peningkatan kapasitas lab yang didukung dg peningkatan tracing.
2. Perluasan wilayah baru dari epicentrum Makassar ke daerah-daerah.
3. Transmisi lokal di Makassar, Gowa, Takalar, Maros dan Bulukumba.
4. Masih rendahnya upaya preventive masyarakat terhadap protokol kesehatan.
5. Masyarakat kurang peduli Covid-19.
6. Role model nakes untuk protokol kesehatan belum berjalan dengan baik.

Mencermati naik turunnya kasus harian yang dilaporkan itu memberi pesan kepada kita semua untuk lebih patuh dan disiplin dalam penegakan protokol kesehatan. Sehingga masyarakat bisa lebih tangguh dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Pada situasi wilayah dalam puncak pandemik maka sikap patuh dan disiplin warga adalah kunci utama untuk keluar dari krisis Covid-19 ini.

BACA:  IDI Makassar Laporkan KBM Tatap Muka MAN 2 Model, Kapolda Sulsel Mendukung Penuh

Makassar 23 Juni 2020
#Supporting each others

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT