Peran Desa dan Masyarakat Bantu Turunkan Angka Stunting di Kabupaten Gowa

Gowa, SULSELSEHAT — Kabupaten Gowa menjadi salah satu daerah yang dinilai berhasil menurunkan angka kasus pertumbuhan anak kerdil atau stunting di Sulawesi Selatan.

Daerah berjuluk Butta Bersejarah ini menjadi peringkat pertama untuk kinerja lokus pelaksanaan konvergensi intervensi penurunan kasus stunting terintegrasi di Sulsel.

JANGAN LEWATKAN :

Kepala Bappeda Kabupaten Gowa, Taufik Mursad mengungkapkan, dari indikator penilaian provinsi, Kabupaten Gowa berhasil meraih peringkat pertama dengan skor 38.

Adapun indikator penilaiannya meliputi penentuan lokasi berdasarkan data sebaran, menentukan intervensi yang diprioritaskan penanganannya, dan mengidentifikasi kendala yang menyasar rumah tangga 1000 hari pertama kelahiran (HPK).

BACA:  Percepat Penurunan Angka Stunting, BKKBN Gandeng Sejumlah Lembaga

“Alhamdulillah semua ini kita penuhi dan hampir keseluruhan nilai kita A,” katanya, Selasa (20/10/2020).

Tak hanya itu, penyusunan rencana kegiatan berdasarkan matriks rekomendasi, dan menyiapkan rincian kegiatan masing-masing desa berdasarkan hasil analisis situasi pada tahun berjalan dengam mengintegrasikan rencana kegiatan ke dalam dokumen perencanaan dan penganggaran.

“Semua itu didukung dengan kerjasama mulai dari pimpinan daerah dan stakeholders yang ikut berpartisipasi aktif selama pelaksanaan yang menghasilkan komitmen penanganan stunting. Selain itu kami telah menyediakan dukungan regulasi untuk mengoptimalkan peran desa dan masyarakat dalam penurunan stunting,” jelas Taufik

Ia berharap, dengan capaian ini akan semakin memicu semangat dan motivasi seluruh tim dan stakeholder untuk lebit giat dalam pelaksanaan intervensi sehingga penurunan angka stunting dapat berjalan maksimal sesuai perencanaan yang ada.

BACA:  Libatkan Kader PKK Desa, Pemkab Takalar Konsen Turunkan Angka Stunting

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gowa dr Hasanuddin mengatakan, kinerja ini melibatkan semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sesuai dengan tupoksi masing-masing.

“Penanganan stunting yang dipimpin Bupati Gowa terbagi dalam dua yaitu, secara sensitif dan spesifik,” terangnya.

Ia menjelaskan, penanganan secara sensitif dilakukan dengan melibatkan OPD, diantaranya Dinas Pendidikan, Dinsos, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas PPKB dan lainnya, termasuk PKK Gowa.

Sementara penanganan secara spesifik, Dinas Kesehatan dan Bappeda menjadi leading sektornya.

“Dalam hal ini Dinkes melakukan pemantauan mulai dari gizi dan pemeriksaan ibu saat hamil,” ungkapnya.

Menurut Pelaksana Tugas Dirut RSUD Syekh Yusuf ini, stunting tidak hanya terkait gizi, tetapi juga pengaruh lingkungan, sehingga masa terpenting pencegahan itu dimulai saat pada masa kehamilan hingga usia anak 2 tahun.

BACA:  Ibu Hamil Berisiko Lahirkan Anak Stunting Jika Saat Remaja Menderita Anemia

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT