Tekan Angka Stunting, Dinkes Gowa Fokus Penanganan Gizi Buruk

Ilustrasi anak stunting.
Ilustrasi anak stunting.

Gowa, SULSELSEHAT — Pemerintah Kabupaten Gowa melalui Dinas Kesehatan terus berkomitmen dalam pencegahan stunting atau tumbuh kerdil. Bahkan program pencegahan stunting ini menjadi hal prioritas.

Salah satu langkah penanganan yang dilakukan yakni pada persoalan gizi buruk. Hal ini lantaran gizi buruk menjadi salah satu penyebab terjadinya stunting.

JANGAN LEWATKAN :

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gowa dr Hasanuddin mengatakan, penanganan gizi buruk yang dilakukan yakni dengan memperkuat pemanfaatan data Elektronik Pencatatan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGB).

Pemanfaatan layanan ini sebagai upaya pemerintah mempercepat penanganan masalah gizi buruk masyarakat, khususnya bagi balita dan ibu hamil.

BACA:  SDGs Center dan Pascasarjana Unhas Buat Rekomendasi Kebijakan Turunkan Stunting

“Penanganan masalah gizi yang tepat sasaran akan membantu kita memaksimalkan hasil yang akan diperoleh. Melalui aplikasi e-PPGBM data sasaran ibu hamil dan balita sudah ada di setiap wilayah posyandu, sehingga memudahkan kita untuk mengintervensi jika terjadi masalah gizi,” katanya, Kamis (26/11/2020).

Khusus di kabupaten/kota telah memperoleh data melalui kegiatan survey seperti Pemantauan Status Gizi (PSG), Riset Kesehatan Dasar ( Riskesdas), maupun Studi Status Gizi Balita di Indonesia (SSGBI).

Sementara untuk data status gizi berdasarkan individu by name by address dapat diakses dalam aplikasi e-PPGBM.

“Penguatan surveilans gizi dimaksudkan untuk mencegah dan menanggulangi masalah gizi termasuk stunting, gizi buruk, gizi kurang, serta ibu hamil kurang energi kronik, bersama dengan lintas program dan lintas sektor-sektor terkait,” ujarnya.

BACA:  Cegah Stunting, Kecamatan Pallangga Galakkan Gerakan Tanam 10.000 Pohon Kelor

Hasanuddin mengaku, selain menampilkan status gizi balita, e-PPGBM juga dapat memperlihatkan faktor determinan dari setiap masalah gizi balita yang ada seperti kepemilikan jaminan kesehatan nasional, apakah ada keluarga yang merokok, cacingan, kepemilikan akses air bersih, riwayat ibu hamil KEK (Kurang Energi Kronik), status imunisasi, kepemilikan jamban, dan penyakit penyerta yang diderita setiap individu yang terdata.

Sementara, Pelaksana Tugas Sekretaris Kabupaten Gowa Kamsinah mengatakan, dikondisi saat ini selain wabah Covid-19 yang melanda Indonesia, hal lainnya yang menjadi permasalahan adalah terkait gizi yang berdampak serius terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

“Status gizi balita dan ibu hamil merupakan salah satu prediktor utama dalam kelangsungan hidup seorang anak. Olehnya itu, perbaikan gizi anak dibutuhkan program multi sektoral yang efektif dan berkelanjutan dalam jangka panjang,” katanya.

BACA:  PKK Takalar Gandeng Dinkes Perkuat Sosialisasi Pencegahan Stunting

Selain itu, pengumpulan data secara reguler sangat penting untuk memantau dan menganalisis kemajuan suatu wilayah, negara bahkan global.

“Informasi besaran masalah gizi dan determinannya inilah dapat dijadikan dasar penyusunan rencana kegiatan dan intervensi yang akan dilakukan oleh para pengambil kebijakan. Sehingga informasi ini sangat penting agar kita mengetahui perkembangan secara cepat, akurat dan berkelanjutan mengenai status gizi dan kinerja gizi yang bersifat agregat di suatu wilayah,” tegasnya.

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT