Soal Covid-19, Tatak Ujiyati: Jangan Cuma Lihat Jumlah Kasus Positif, Lebih Penting Lihat Jumlah Tesnya!

Ilustrasi Pemeriksaan Swab Pasien Covid-19
Ilustrasi Pemeriksaan Swab Pasien Covid-19. Foto: immediate.co.uk)

Jakarta, SULSELSEHAT – Peneliti dan ahli tata pemerintahan (good governance) Tatak Ujiyati mengatakan bahwa ukuran keberhasilan pemerintah menanggulangi Covid-19 bukan hanya dilihat dari jumlah kasus positif.

Pasalnya, bisa jadi kasus positif rendah karena jumlah yang dites memang sedikit.

JANGAN LEWATKAN :

Karena itulah, menurut dia, salah satu ukuran keberhasilan pemerintah menangani Covid-19 adalah jika jumlah tes PCR banyak, tetapi jumlah kasus positif yang ditemukan rendah.

Demikian pengantar tulisan Ujiyati yang diposting di Facebook miliknya, Senin (15/06/2020) dan mendapat ratusan respon dari netizen.

Ujiyati yang tercatat pernah bekerja sebagai government specialist di ADB dan Oxfam mengisahkan, tanpa tes yang banyak, maka data-data jumlah positif Covid-19 yang terpampang rendah bisa jadi merupakan gambaran semu.

“Kita tak benar-benar aman,” sebut anggota Komite Pencegahan Korupsi (Komite PK) DKI Jakarta itu.

Nah, berikut adalah versi lengkap dari status Facebook yang telah dibagikan hingga 198 kali itu.

Berhasil tangani Corona? Jangan cuma lihat jumlah kasus positif, lebih penting lihat jumlah tesnya.

Ukuran keberhasilan pemerintah menanggulangi covid-19 bukan hanya dilihat dari jumlah kasus positif. Sebab bisa jadi kasus positif rendah karena jumlah yang dites memang sedikit.

BACA:  Polda Sulsel Akan Periksa Keluarga Korban yang Ambil Paksa Jenazah Covid-19 di RS

Maka salah satu ukuran keberhasilan pemerintah menangani covid-19 adalah jika jumlah tes PCR banyak, tetapi jumlah kasus positif yang ditemukan rendah.

Ada guyonan, agar kasus positif covid rendah maka jangan lakukan tes. Kita mungkin ketawa ya atas guyon itu. Tapi ternyata ada kejadiannya di lapangan.

Seorang teman bercerita, ada kepala daerah yang menolak dibantu tes PCR karena takut ketahuan kasus positifnya jadi banyak.

Dia tak bilang kepala daerah mana yang menolak itu. Tapi jika benar, sikap ini sungguh mengkhawatirkan. Tanpa tes yang banyak maka data-data jumlah positif yang terpampang rendah bisa jadi merupakan gambaran semu. Kita tak benar-benar aman.

Di Jakarta sikap Pemerintah tidak demikian. Jumlah tes terus digenjot. Puskesmas semakin aktif melakukan tes dan menelusuri kasus di Jakarta. Tujuannnya jelas, melokalisir kasus positif dan mencegah penularan. Soal naik turun angka positif itu hanyalah akibat, bukan tujuan.

Semangat ini tercermin dari pernyataan Gubernur Anies Baswedan di media, “Jangan sampai kita mengurangi pengetesan supaya grafiknya kecil, supaya angkanya turun”.

BACA:  Gubernur Instruksikan Dinkes dan Rumah Sakit di Sulsel Fokus Tangani Covid-19

Justru Jakarta pada saat PSBB transisi ini pengetesan diaktifkan lebih banyak 2.5 kali lipat dari sebelumnya. Sebagai ujung tombak, Puskesmas juga giat mencari langsung kasus positif atau active case finding.

Karena pentingnya jumlah tes ini bagi validitas data positif covid-19, saya sempatkan browsing laman-laman covid di provinsi se-pulau Jawa.

Ternyata hanya DKI Jakarta dan Jawa Barat, yang menyediakan data jumlah tes covid 19 (rapid tes dan PCR). Itupun hanya Jakarta yang sediakan data jumlah orang yang dites. Jawa Barat hanya menyajikan jumlah spesimen yang dites bukan jumlah orang.

Mengapa lebih penting tahu jumlah orang dites ketimbang spesimen? Karena satu orang seringkali dites lebih dari sekali sehingga menyajikan data spesimen yang dites kurang informatif. WHO sendiri juga menggunakan standar jumlah orang dites per 1.000 penduduk.

Nggak dapat data di laman resmi pemerintah provinsi selain Jakarta dan Jabar, ternyata WHO punya data itu. Dan beginilah datanya, tes dalam periode 25 Mei hingga 7 Juni 2020. DKI Jakarta melakukan paling banyak melakukan tes yaitu 44.239 orang. Jogjakarta paling sedikit dengan 869 orang.

Jumlah persen positif dari jumlah yang dites Jawa Timur paling ngeri yaitu 30.9%. Artinya kira-kira dari 3 yang dites di Jawa Timur, 1 orang positif. Disusul Jawa Tengah dengan 11.1% yang artinya dari 10 orang yang dites kira-kira 1 orang positif. Tapi Jawa Tengah masih rendah ya jumlah orang yang dites (3.146) maka yang tidak terpetakan masih lebih banyak.

BACA:  Diminta PHRI, Pemkot Makassar Tetap Belum Izinkan Pesta Pernikahan Digelar

Data WHO itu menarik. Yang saya dapat dari teman saya wartawan Kompas Ahmad Arif di twitter. Saya nggak punya datanya, tapi ia mengatakan bahwa hanya DKI Jakarta yang memenuhi standar tes WHO. Yaitu 1/1.000/minggu.

Gambar screen shoot ini bisa jadi acuan berapa banyak jumlah tes dan rata-rata kasus positif per provinsi se-Jawa. Lumayan membantu. Walau saya juga masih penasaran untuk tahu, berapa perbandingan data antar provinsi jumlah orang dites per 1.000 penduduk per minggu yang sesuai standar WHO itu. Mudah-mudahan nanti ada datanya.

Tatak Ujiyanti

Yang jelas data ini menjadi gambaran. Bahwa untuk kebanyakan daerah, jumlah tes memang masih perlu digenjot agar memenuhi standar WHO.

Jika belum mencapai standar itu maka data kasus positif yang sedikit akan menyesatkan. Ada gunung es yang belum terbuka.

Tatak Ujiyati

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT