Waspadai Risiko Tinggi Penularan Covid-19 di Area ‘3C’ Ini!

Ilustrasi Crowded Area

Oleh: Muh. Firdaus Kasim
(Departemen Kedokteran Komunitas dan Pencegahan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Kepala Bidang Penelitian dan Inovasi, Rumah Sakit Universitas Hasanuddin)

Kampanye pencegahan penularan Covid-19 saat ini pada umumnya berfokus pada individu. Hal ini dapat dilihat dari kampanye menggunakan masker, cuci tangan rutin dan senantiasa menjaga jarak.

JANGAN LEWATKAN :

Akan tetapi perlu diketahui bahwa selain melaksanakan kewaspadaan individu tersebut, kita perlu juga memperhatikan lingkungan tempat melaksanakan aktivitas kita. Tidak semua tempat dan jenis aktivitas memiliki risiko yang sama.

Perbedaan risiko lingkungan dan aktivitas ini dapat dilihat dari hasil analisa klaster penularan pada beberapa negara.

Definisi klaster penularan itu sendiri adalah apabila terjadi tiga kasus Covid-19 atau lebih yang saling terkait.

Analisa klaster ini dan penyebarluasan informasi risiko dari analisa klaster tersebut menjadi strategi utama Jepang untuk dapat segera keluar dari masa gawat darurat walaupun tanpa strategi pengetesan yang masif (Normile, 2020).

Pada beberapa kabupaten/kota yang memiliki tingkat penularan relatif rendah, pencegahan penularan menjadi sangat penting sebab Covid-19 memiliki angka overdispersi (k) yang cukup rendah yaitu 0.1, yang berarti 80% kasus diakibatkan oleh hanya 10% penderita (Endo et al., 2020).

Hal ini berarti jumlah kasus yang sedikit pada sebuah daerah tetap dapat memicu fenomena superspreading yaitu penularan masif yang dapat menghasilkan lonjakan kasus eksponansial apabila tidak dikelola dengan baik.

BACA:  2 Lagi Meninggal Dunia, IDI Makassar Telah Kehilangan 8 Dokter Akibat Covid-19

Oleh karena itu, penting untuk berfokus pada pencegahan di lokasi yang berisiko untuk mengalami kejadian penularan masif.

Penularan masif ini berkontribusi pada penularan 274 orang di Korea Selatan yang berasal dari klaster pengunjung kelab malam setelah pembukaan aktivitas publik mereka kembali pada bulan Mei yang lalu (Updates on Covid-19 in Republic of Korea: 8 June 2020, 2020), ataupun pada pabrik pengolahan daging di Jerman yang menularkan hingga 2000 orang di Gutersloh, Jerman (Coronavirus: What went wrong at Germany’s Gütersloh meat factory? – BBC News, 2020).

Waspadai Area 3-C

Analisa klaster di Jepang menghasilkan rekomendasi 3 kriteria area yang berisiko yang disingkat dengan 3-C (Normile, 2020), yaitu Closed (ruang tertutup), Close contact (kontak erat) dan Crowded (kerumunan).

Ruangan tertutup (indoor) memiliki risiko penularan 19 kali lipat dibandingkan ruangan terbuka (Nishiura et al., 2020).

Lokasi yang padat meningkatkan risiko penularan, hal ini dapat dilihat pada laporan wabah pada sebuah kantor call center di Korea Selatan yang menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah karyawan pada sebuah ruangan semakin tinggi risiko penularan, walaupun berbagai ruangan kantor tersebut berada pada lantai yang sama (Park et al., 2020).

BACA:  Peringati HKN 2020, Masyarakat Diajak Ikuti Aksi Tepuk Tangan 56 Detik

Kontak erat berarti berada pada radius 1 meter dari seorang penderita selama lebih dari 15 menit tanpa menggunakan masker.

Definisi kontak erat selama 15 menit ini digunakan oleh beberapa negara walaupun pada sebuah penelitian, kontak erat dengan penderita selama 10 menit telah memberikan risiko penularan yang signifikan (Buonanno, Stabile and Morawska, 2020).

Pengetahuan akan area berisiko ini penting untuk diketahui oleh masyarakat maupun pemilik tempat usaha untuk bersama-sama melakukan pengelolaan risiko infeksi pada beberapa area tersebut.

Misalnya sebuah restoran dengan kondisi ruangan tertutup dan memiliki pengatur suhu (Air Conditioner). Aktivitas di restoran tentu mengharuskan pengunjung untuk melepas masker dan duduk selama lebih dari 15 menit untuk menyantap hidangannya. Kedua hal tersebut tentu berisiko dalam penyebaran virus SARS-Cov-2.

Langkah pencegahan infeksi dapat dilakukan dengan memberikan jarak antar meja pengunjung minimal 1 meter serta kapasitas maksimal pengunjung yang masuk dalam ruangan restoran tersebut harus dibatasi.

Apabila terdapat ruang terbuka pada sebuah restoran, ruang terbuka tersebut sebaiknya dioptimalkan dengan tetap menjaga jarak antar meja dan kursi pengunjung.

Selain itu, protokol desinfeksi harus secara intens dilakukan pada area permukaan yang banyak disentuh oleh orang seperti gagang pintu, pegangan tangga, kran air maupun pinggir meja kasir.

Kita sebaiknya lebih waspada saat melakukan aktivitas pada area publik yang berada pada ruang tertutup, tidak terdapat jarak antar meja serta yang memiliki jumlah pengunjung yang padat.

BACA:  Idul Adha, Jumlah Kasus Positif Covid-19 Makassar Tembus 5579

Beberapa aktivitas seseorang juga berpengaruh pada tingkat penularannya. Semakin tinggi volume suara seseorang, produksi aerosol yang dapat membawa virus juga semakin tinggi (Asadi et al., 2019).

Oleh karena itu, hindari area publik yang bising. Skrining suhu tubuh pada area publik bermanfaat untuk mendeteksi seseorang yang demam untuk memasuki area publik.

Akan tetapi skrining ini tidak bisa mendeteksi seorang penderita yang belum atau tidak memiliki gejala. Tingkat penularan seorang penderita meningkat pada 2 hari sebelum timbulnya gejala (He et al., 2020).

Oleh karena itu, kewaspadaan universal tetap kita harus lakukan apabila berada pada ruangan publik walaupun pengunjung lain di sekitar kita tidak memiliki gejala klinis Covid-19.

Sebagai penutup, penulis berpendapat bahwa upaya paling optimal yang bisa kita lakukan untuk mencegah penularan Covid-19 adalah dengan melakukan aktivitas di rumah dan menghindari area publik.

Kewaspadaan kita harus semakin ditingkatkan apabila kita terpaksa beraktivitas pada area publik dan memasuki area 3C; Closed, Close Contact dan Crowded.

Pada saat memasuki area tersebut, perlindungan individu harus semakin kita tingkatkan, yaitu tetap menggunakan masker, cuci tangan setiap menyentuh permukaan yang banyak disentuh oleh orang lain serta menjaga jarak, semakin jauh semakin rendah risiko penularan.

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT