Ahli Gizi Ini Yakin Stunting Meningkat Akibat Pandemi Covid-19

Ilustrasi Stunting
Ilustrasi Stunting pada anak. Sejumlah ahli gizi meyakini peningkatan jumlah penderita stunting akibat pandemi Covid-19. (Foto: BorneoNews.co.id)

Jakarta, SULSELSEHAT – Jumlah penderita stunting diyakini akan sangat meningkat diakibatkan pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Stunting adalah kekurangan gizi kronis yang terjadi selama periode paling awal pertumbuhan dan perkembangan anak.

Hal itu dikatakan ahli gizi klinik dr Tirta Prawita Sari, Sp.GK, Senin (15/06/2020) menanggapi prediksi meningkatnya angka stunting di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan.

JANGAN LEWATKAN :

Sebelumnya, Sekretaris Pengurus Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Sulsel, Manji Lala, S.Gz, M.Gz pada Kamis (11/06) lalu mengatakan bahwa angka stunting di daerah ini akan bertambah 10-15 persen akibat pandemi.

BACA:  IDI Makassar Soroti Kebijakan Pemkot Longgarkan Aktivitas Saat Kasus Covid-19 Melonjak

Atas prediksi itu, dr Tirta mengaku tak mau menanggapi soal angka yang disebutkan, kendati tak menampik kebenarannya.

“Kalau nanggapin angkanya saya gak punya kompetensi. Tapi karena stunting adalah masalah gizi yang sangat erat kaitannya dengan status ekonomi, nampaknya ya benar sih prediksi ini,” kata dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta itu.

Karena itu, lanjut Wita, sapaan akrab dia, monitoring status gizi di 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) mesti diperkuat.

Untuk diketahui, 1000 HPK terbagi menjadi tiga fase yaitu pada masa kehamilan, satu tahun pertama setelah kelahiran, dan masa balita (tahun kedua).

“Mesti perkuat monitoring status gizi di 1000 HPK. Ini kelompok paling terdampak dan hasilnya long term,” cetus alumni Kedokteran Unhas ini.

BACA:  Pemprov Sulsel Siapkan 2 Lokasi Berbeda untuk Rapid Antigen Gratis

Ia menyebut, masalah lain yang juga perlu mendapat perhatian serius adalah anemia pada ibu hamil (bumil) yang juga masih sangat tinggi.

“Anemia bumil masih tinggi, sedangkan jumlah bumil yang minum TTD (tablet tambah darah) rendah. (Jadi) resiko berat badan lahir rendah (BBLR) akan meningkat, yang bila tidak diatasi dalam periode 1000 HPK, akan sebabkan stunting,” pungkas Wita.

Penyebab Stunting

Menurut UNICEF, stunting adalah persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO.

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT