Dampak Pandemi, Stunting di Sulsel Diprediksi Meningkat 10-15 Persen

Potret Stunting
Ilustrasi anak yang stunting akibat kekurangan gizi kronis selama masa pertumbuhan awal. [Foto: suara.com]

Makassar, SULSELSEHAT – Jumlah anak penderita stunting di Sulawesi Selatan diprediksi akan meningkat 10-15 persen akibat pandemi Covid-19 saat ini.

 

Di Sulsel, ada 151.398 anak penderita stunting tahun 2019 lalu. Stunting adalah kekurangan gizi kronis yang terjadi selama periode paling awal pertumbuhan dan perkembangan anak.

JANGAN LEWATKAN :

Hal tersebut diungkapkan ahli gizi Manji Lala, S.Gz, M.Gz dalam perbicangan bersama SulselSehat.com, Rabu (10/06/2020).

Menurutnya, pandemi Covid-19 yang terjadi dalam rentang waktu yang cukup lama mengakibatkan roda perekonomian berjalan sangat lambat.

Ia lantas mengutip pernyataan Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengawasan Pajak, Nufransa Wira Sakti yang mengungkap dampak pandemi yang sangat dahsyat terhadap prekonomian dunia termasuk Indonesia.

Di saat yang sama lanjut Manji, baik produksi, transportasi, penyimpanan maupun penjualan makanan juga terganggu. Akibatnya, masalah gizi pada kelompok rentan seperti ibu hamil dan balita akan semakin meningkat seiring dengan sulitnya akses mereka terhadap makanan yang begizi.

“Apalagi selama pandemi Covid-19 layanan kesehatan di Posyandu untuk balita dan ibu hamil juga terganggu,” kata Dosen Poltekkes Kemenkes Makassar itu.

BACA:  Pemkab Gowa Fokuskan Pencegahan Klaster Covid-19 Pada Perayaan Nataru

Masalah Gizi

Setidaknya ada 2 potensi masalah besar gizi yang perlu diperhatikan akibat pandemi Covid-19 saat ini, yakni status gizi ibu hamil dan kekurangan gizi pada balita.

Manji menjelaskan, layanan kesehatan yang tidak maksimal selama pandemi akan berdampak kepada kondisi kesehatan setelah pandemi.

“Mengingat ibu hamil membutuhkan layanan kesehatan yang kompehensif sehingga ketika layanan ini tidak maksimal maka akan berdampak kepada kondisi kesehatan ibu,” bebernya.

Pada sisi lain, balita membutuhkan asupan makanan bergizi, tapi disaat yang sama situasi ekonomi keluarga tidak memungkinkan karena dampak pandemi.

“Sehingga yang terjadi adalah keluarga kemungkinan akan mengurangi porsi makan atau mereka akan memilih makanan yang murah dan cenderung tidak bergizi,” ungkap dia.

Manji menyebut, masalah gizi pada balita baru akan nampak setelah beberapa bulan balita tidak mendapat asupan makanan yang bergizi.

“Jika pandemik berjalan sejak awal Maret hingga Mei, maka tentu perlu diwaspadai pada bulan Juni-Agustus tahun ini munculnya masalah gizi yang massif pada kelompok balita, khususnya pada keluarga yang berpenghasilan rendah atau terkena dampak pandemi seperti PHK atau dirumahkan,” terang Manji.

Karena itu, ia memperkirakan jumlah masalah gizi khususnya angka stunting di Sulsel akan bertambah antara 10 – 15 persen di akhir tahun nanti.

BACA:  Masih Pandemi Covid-19, Pemkot Palopo Belum Izinkan Pembelajaran Tatap Muka

“Perkiraan saya (stunting) akan naik 10-15% mengingat situasi ekonomi tidak langsung nomal,” simpulnya.

Hal senada disampaikan oleh dr. Djunaidi M. Dachlan, MS, dosen Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas kepada SulselSehat.com, Rabu (10/06).

Meski tak menyebut angka pasti, tetapi akibat pelayanan khusus ibu hamil dan balita yang tidak berjalan selama pandemi, ia meyakini akan ada peningkatan masalah gizi.

“Pada kelompok rentan ibu hamil dan anak balita akan mengalami masalah pelayanan kesehatan dan gizi yang secara esensial pelayanannya terhenti oleh akses yang terbatasi juga oleh karena fokus pelayanan untuk Covid-19,” kata dr Dedy, sapaan akrabnya.

Dasa Wisma

Salah satu solusi yang dapat meminimalkan dampak pandemi Covid-19 terhadap sektor gizi keluarga menurut Manji adalah dengan mengaktifkan kembali Dasa Wisma.

“Dasa Wisma harus disuarakan kembali. Dasa wisma ini sudah lama mati, kalau ini aktif kembali (maka) mereka bisa saling mendungkung sebagai tetangga,” harapnya.

Dasa wisma adalah kelompok ibu-ibu yang berasal dari 10 KK (kepala keluarga) rumah yang bertetangga untuk mempermudah proses pemantauan balita dan ibu hamil yang ada di sebuah wilayah.

BACA:  Ini Hasil Tes Swab Ibu di Makassar yang Bayinya Meninggal dalam Kandungan

“Dengan semangat gotong royong, setiap warga harus punya kepedulian yang tinggi terhadap ibu hamil dan balita yang ada di sekitarnya dengan memastikan mereka dapat mengakses bahan makanan yang bergizi,” kata Manji.

Selain itu, konsep Dasa Wisma ini juga relevan dilakukan meski dalam masa pandemi Covid-19 saat ini.

“Justru kalau pandemi cocok sekali karena Dasa Wisma itu konsepnya 10 rumah yang berdekatan jadi mereka bisa saling menjaga,” tutupnya.

Daerah Stunting

Dilansir dari Medcom.id, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Sulsel, Husni Tamrin pada Selasa (11/02/2020) silam menyebutkan, anak dengan stunting tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.

Ada delapan daerah dengan angka stunting cukup tinggi di Sulsel. “Tertinggi adalah Enrekang 43 persen dan Bone 39 persen dari total angka stunting yang tercatat,” bebernya.

Selanjutnya, di Kabupaten Jeneponto dengan 36 persen, Takalar 34 persen, Bantaeng 33 persen, Pinrang 32 persen, Gowa, 31 persen, dan Pangkep 30 persen.

Husni menduga tingginya angka stunting di beberapa daerah karena pola asuh orang tua yang tak mampu memenuhi kebutuhan gizi anak sejak dalam kandungan hingga umur lima tahun. Selain itu, sanitasi yang kurang atau tidak memenuhi standar menyebabkan pertumbuhan anak kurang baik.

Baca berita terbaru SulselSehat langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom. Mau terbitkan rilis berita atau artikel opini di SulselSehat? Kirim ke email: redaksisulselsehat@gmail.com.

INFORMASI TERKAIT