Libatkan Kader PKK Desa, Pemkab Takalar Konsen Turunkan Angka Stunting

Ilustrasi stunting pada anak.
Ilustrasi stunting pada anak. (Foto: detik.net.id)

Takalar, SULSELSEHAT — Pemerintah Kabupaten Takalar melalui dinas sosial setempat berkomitmen dalam menurunkan angka stunting di daerahnya. Apalagi Pemerintah Provinsi Sulsel menargetkan pada 2023 mendatang angka stunting dapat turun dari 30,4 persen ke 14 persen.

Ketua Tim Penggerak PKK Takalar Irma Andriani mengatakan, langkah sinergis yang dilakukan yaitu dengan melibatkan kader-kader dari TP PKK desa. Upaya menurunkan angka stunting ini pun semakin didorong termasuk di tengah-tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

JANGAN LEWATKAN :

BACA:  Menyoal Efek Vaksin Covid-19, Pakar: Tanda Antibodi Terbentuk

“Ujung tombak setiap daerah adalah desa, segala sesuatu dimulai dari desa. Untuk itu, pemerintah desa harus memperbaiki gizi masyarakatnya,” katanya saat membuka Pembinaan Kader PKK di Kecamatan Marbo, di Aula Kantor Camat Mangarabombang, Kamis (6/8/2020).

Adapun kelompok di tingkat desa yang dilibatkan yakni semua kelompok-kelompok di desa baik dasawisma maupun kader-kader lainnya.

“Mereka ini yang akan kita instruksikan untuk turun langsung ke lapangan untuk mengecek kondisi kesehatan setiap masyarakat,” katanya lagi.

Dirinya berharap, agar para kader bersama-sama melakukan upaya-upaya pencegahan stunting sehingga Kabupaten Takalar dapat mencapai zero stunting.

Sementara, Camat Marbo Mappaturung mengatakan, di masa pandemi ini pemerintah terus berupaya memperbaiki gizi di masyarakat sebagai cara dalam pencegahan stunting.

BACA:  Tingkat Kesembuhan Pasien Covid-19 di Sulsel Capai 64 Persen

“Di setiap desa juga sudah menganggarkan untuk memperbaiki gizi di masyarakat dengan memberikan vitamin dan makanan tambahan serta pemeriksaan kesehatan,” katanya.

Menurutnya, anak menjadi stunting karena pola asuh yang kurang baik, gizi diseribu hari pertaman kehidupan kurang bagus, pola asuh orangtua yang tidak sesuai dan beberapa hal lainnya.

“Penyebab dari stunting juga karena kurangnya asupan gizi yang diterima oleh janin, kurangnya perhatian suami dan keluarga saat sedang hamil, kurangnya pengetahuan ibu hamil, suami dan keluarga tentang gizi, dan kurangnya akses air bersih dan sanitasi,” ujarnya.

Baca berita terbaru SulselSehat.com langsung di email Anda, klik di sini untuk daftar gratis. Jangan lupa ikuti kami melalui Facebook @sulselsehatcom.

INFORMASI TERKAIT